WHAT'S NEW?
Post Space...
Tampilkan postingan dengan label HabibJindan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HabibJindan. Tampilkan semua postingan
Dari ceramah Habib Jindan Novel bin Salim Jindan. 
Pengajian Rutin Maulid Malam Jum'at  Al Fachriyah  2017-03-09.

Hak seorang muslim yang wajib dilaksanakan atas muslim lain, yang pertama adalah mengucapkan salam, Jika kita berjumpa kasih salam jangan menunggu disapa dulu sehingga masing masing menunggu, kita harus memulai. Begitu ketemu muslim sapa dia dengan sapaan terbaik yaitu salam, itu adalah sapaan ahlul jannah (Ahli Surga) kasih salam itu yang pertama.

Itulah haknya muslim, siapa yang menyapa terlebih dahulu itu lebih afdol. Menjawab salam hukumnya adalah wajib, memberi salam hukumnya sunnah. Wahib sama sunnah lebih afdol wajib, tapi dalam kasus ini yang sunnah lebih afdol dari yang wajib. Dalam kasus salam, memulai salam walaupun itu sunnah maka lebih afdol daripada menjawab salam yang merupakan kewajiban.

Jadi haknya muslim kalau jumpa kasih salam. Jumpanya di angkot kasih salam, malu? Kenapa malu itu sunnahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jumpa di bis kasih salam, jumpa di pasar kasih salam. Jumpa di mall kasih salam. Nora dong? Hey ngikutin Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah mulia, yang melanggar sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam itulah yang nora di neraka.

Diantara hari kiamat itu orang orang gak ngasih salam kecuali sama orang yang dia kenal, yang dia gak kenal dia gak kasih salam. Itu akhir zaman tanda kiamat.
Begitu jumpa kasih salam, nanti takut dia non muslim?? Husnudzon. anggap saja semua orang muslimin, kasih salam. Biar semua orang tahu kalau islam syiar nya adalah salam, kalau islam itu damai.


pencarian terkait
Hukum mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal

Hak seorang muslim

Hokum mengucapkan salam

Hokum menjawab salam

Ciri seorang muslim

Salam adalah hak seorang muslim
Dari Ceramah Alhabib Jindan bin Novel bin Salim Jindan. 


Kamu pikirin tuh dunia yang sebentaran, udah ngumpulin harta sebanyak banyaknya, jabatan setinggi tingginya, udah susah payah taklukan ini taklukan itu, sudah jadi penguasa sudah mau menikmati tapi baru juga begitu, malaikat izrail datang pada kita untuk menempuh jalan kematian, ga bisa balik lagi, jalan cuma satu arah.

Jadi pelajaran bagi orang tersebut yang menghabiskan umurnya untuk cari kekuasaan cari harta, tapi yang nikmatin bukan dia tapi yang nanggung hisabnya adalah dia di hari kiamat. Pikirin betapa fana nya itu dunia yang baru kamu nikmatin udah habis.

Dunia sekarang ini uda tinggal ampasnya doang, yang nikmatin dunia itu dari masa dunia masih perawan seperti ghorun, firaun, kaumnya Nabi Hud a.s, kaum ‘ad, kaum tsamud, mereka tuh yang pada nikmatin, kita Cuma ampasnya doang. Dulu orang menikmati dunia ada yang 1000 tahun umurnya, ada yang 1500 tahun ada yang 700 tahun. Umur kita Cuma 60 atau 70 tahun. Nabi zaman dulu ketemu seorang ibu yang lagi nangisi kuburan anaknya. Nabi bilang uda bu ga usah nangis, ibu itu menjawab anak saya masih kecil, lagi lucu lucunya eh mati diambil. Terus Nabi a.s berkata emang berapa umurnya anak ibu yang mati? Ibu itu pun menjawab “anak saya baru berumur 350 tahun”.

Dunia itu susahnya banyak, capenya banyak, tidak ada kenikmatan yang akan kamu nikmati melainkan setelah merasakan sekian banyak kesulitan. Kamu bisa senyum tapi setelah berapa tangisan? Kamu bisa kenyang tapi setelah berapa lapar? Setelah berapa keringat yang kamu lap didahi kita? Kamu bisa bayar ini itu tapi setelah perjuangan berapa lama? Dihinakan, direndahkan dan lain sebagainya. Dan yang kamu dapat hanya secuil.


Tapi akherat cuma baca sebentaran aja seperti “Subhanallah walhamdulillah walailahailallah wallahuakbar” dapet sepohon disurga. InshaAllah. Dan masih banyak amalan akherat yang terlihat ringan namun manfaat dan fadhilahnya kelak sangatlah banyak dan besar.







kata kunci
sifat dunia
gambaran dunia
cinta dunia
dunia yang fana
Dari Ceramah Alhabib Jindan bin Novel Salim bin Jindan
Di Majelis Rasulullah Masjid Almunawar Jakarta.


Salah seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Abdullah bin abbas r.a Beliau sampai bilang (Yang artinya):
“Disaat saya mencari ilmu agama, saya terhinakan dan mencicipi kehinaan. Namun ketika saya dicari, saya dihormati orang.”

Walaupun tujuan Beliau tidak mencari penghormatan dari siapapun juga, Beliau sempat menunggu dirumahnya Zaid bin Tsabit r.a seorang senior sahabat pada masa itu, Abdullah bin abas r.a menunggu di depan pintu rumah Zaid bin tsabit r.a ga mau ngetok dan ga mau beranjak dari pintu rumahnya. Suruh ngetok gak mau, pulang dulu gak mau namun Abdullah bin Abas menunggu kapan Zaid bin tsabit ada waktu lenggang keluar rumah dan Abdullah bin Abas ada disitu.

Maka Abdullah bin Abas sampai tertiup debu dikota tersebut sampai gak dikenal wajahnya saking banyaknya debu yang memenuhi muka beliau. Ketika Zaid bin Tsabit keluar rumah lalu memperhatikan Abdullah bin Abas, Zaid bin tsabit berkata “Abdullah bin Abas? Sepupu Rasulullah kenapa gak ngetuk pintu rumah saya?” Lalu Abdullah bin Abas menjawab “Saya gak mau mengganggu waktu istirahatmu, saya menunggu kamu senggang dan kamu keluar nah baru kita bahas kajian ilmu tersebut.”

Dilain waktu saat Zaid bin tsabit datang maka Abdullah bin Abas langsung berdiri menyambut Zaid bin Tsabit yang sedang naik keledai maka Abdullah bin Abas langsung menghampiri dan mengambil tali keledainya dengan cara dituntun oleh Abdullah bin Abas, Hal seperti itu biasanya dilakukan oleh pembantu atau budak, tapi Abdullah bin Abas sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal tersebut sampai Zaid bin Tsabit merasa tidak enak lalu beliau bilang kepada Abdullah bin Abbas :

“Wahai Sepupu Rasulullah, lepaskan, biarkan saja jangan dibawa” lalu dijawab oleh Abdullah bin Abas “Beginilah kita diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kita” maka Zaid bin Tsabit terdiam tidak bisa menjawab karena memang begitu ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Begitu Zaid bin Tsabit turun dari keledai maka dipeganglah tangan Abdullah bin Abbas lalu dicium oleh Zaid bin Tsabit. Maka Abdullah bin Abbas menjerit “kenapa engkau lakukan itu?” Maka Zaid bin Tsabit menjawab “Beginilah kita diperintahkan untuk memperlakukan keluarga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka saling menghargai satu sama lain
Ceramah Alhabib Jindan bin Novel bin Jindan

Waktu itu bagaikan pedang, kalau bukan engkau yang melewatinya maka dia yang akan menebas kita.

Maka sungguh nanti penghuni surga akan menyesal, masuk surga nyesal apalagi masuk neraka.
Sebagaimana Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا.

“Tidaklah orang orang surga merasakan penyesalan, kecuali penyesalan mereka atas berlalunya waktu atau suatu saat didunia yang mereka lalui tanpa berdzikir kepada Allah”

Nah itu penyesalan orang surga, apalagi penyesalan orang neraka. 
Waktu yang berkah itu adalah waktu yang diisi dengan kebaikan, "oh waktunya berkah karena punya banyak waktu luang dua jam tiga jam, empat jam" bukan waktunya yang berkah, biar kata punya waktu lima menit atau satu jam atau beberapa menit, tetapi kalau ia isi dengan kebaikan baru berkah, kalau ga diisi dengan kebaikan, tidak berkah.


Sehingga keberkahan waktu jika diterapkan kepada orang orang shalihin satu jam saja mereka duduk maka ada sekian ilmu yang mereka dapat, satu jam ada sekian dzikir yang ia dapat, dalam satu jam ia sudah dzikir, baca Alquran, shalat jamaah dan kebaikan lainnya. Nah itu keberkahan didalam waktu.



Kata kunci:
Penyesalan penghuni surga
Waktu bagai pedang
Pentingnya memaanfaatkan waktu
Waktu dalam pandangan islam
Keberkahan Waktu

Allah SWT menyatakan dalam hadits qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
Aku (Kata Allah) sesuai dengan prasangka hamba-Ku” 

Barangsiapa berprasangka Allah akan memberinya maka inshaAllah Allah akan memberinya. Barangsiapa berprasangka Allah akan mengampuninya InshaAllah Allah akan mengampuninya. Demikian Allah memperlakukan hamba tersebut sesuai dengan prasangka hamba tersebut.

Kemudian Allah juga menyatakan :

 يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً 

Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi pula.” 

Maha suci Allah yang mengampuni tanpa peduli. Apabila Allah mengampuni maka tidak hitung hitungan dalam mengampuni.

Demi kemuliaanKu (Kata Allah) aku tidak padukan bagi hambaKu dua rasa takut dan dua rasa aman. Seandainya dia merasa takut (takut karena Allah) selama di dunia maka di akherat Aku amankan dia, Aku tidak akan membuat dia cemas, tidak akan membuat dia resah, tidak akan membuat dia ketakutan. Namun barang siapa di dunia ia telah merasa aman, merasa tidak akan disiksa, merasa akan masuk sorga, maka di akherat dia akan dibuat cemas, akan dibuat takut oleh Allah SWT. Takut akan siksa dan azab yang menanti orang tersebut.

 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam beliau menyatakan:

 “Sumber dari pada hikmah adalah rasa takut kepada Allah SWT”

Diriwayatkan ada satu orang yang sedang sakit dari sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam menjenguk orang tersebut, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam berkata:

“Bagimana keadaanmu? Apa yang engkau rasakan?”

Maka sahabat yang sakit tersebut berkata:

“Ya Rasulullah, aku dalam keadaan sakit ini perasaanku takut akan dosa dosaku, aku takut akan kesalahanku dan aku berharap rahmat dari Tuhanku.”

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam tersenyum dan berkata:


“Sungguh rasa takut dan rasa berharap tidak berkumpul di dalam hati seorang mukmin dalam keadaan ini, melainkan pasti Allah SWT akan amankan dia dari yang di khawatirkannya, dan Allah akan berikan apa yang ia harapkan”



Penceramah : Habib Jindan bin Novel bin Jindan
Tempat        : Nabawi TV

Bissmillahirrahmanirrahim...

Allah SWT memuji sekelompok dari Ummat Nabi besar Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam di dalam Alquran, yang mana mereka itulah orang orang yang berdoa kepada Allah ta’ala semata mata mengharap kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, ingin berlomba lomba diantara mereka untuk lebih dekat kepada Allah, mengharap rahmat dan kasih sayang dari Allah dan senantiasa takut kepada Allah takut kepada azab Allah, sebab azab Allah adalah sesuatu yang mengkhawatirkan, sesuatu yang menakutkan.

Semakin orang takut kepada Allah semakin dia berharap pula kepada Allah S.W.T, hingga dikatakan

"Senantiasa hati harus selalu dirasuki rasa takut kepada Allah yang tidak pernah berpisah darinya, dan bersama rasa takut yang besar terdapat juga rasa berharap yang sama besarnya didalam hati orang tersebut"

Allah memuji manusia yang takut dan berharap kepada Allah, mereka orang orang mulia tersebut adalah orang orang yang berlomba lomba dalam kebaikan, berlomba lomba dan bersegera melakukan hal hal yang mulia, hal hal yang baik. Dan mereka selalu berdoa, mereka memanggil Allah dengan rasa berharap kepada Allah dan juga memanggil Allah dengan rasa takut kepada Allah, dan sifat mereka adalah orang orang yang khusu.

Mudah mudahan Allah menjadikan kita orang orang yang khusu yang selalu takut kepada Allah dan selalu berharap dan bertumpu kepada Allah.

Siapa gerangan mereka yang berharap kepada Allah? mereka yang berharap kepada Allah, mereka adalah orang orang yang beriman, mereka orang orang yang berhijrah, mereka orang orang yang berjuang dijalan Allah, mereka itulah orang orang yang berharap kepada Allah.


Orang yang memiliki harapan maka dia akan berbuat sebab dia punya harapan, dia akan bersikap, dia akan melakukan, dia akan bekerja. Seseorang bekerja karena dia punya harapan didepan saya ada gaji, didepan saya ada bulanan yang akan saya dapatkan. Begitu juga seorang yang berharap kepada Allah ta’ala akan semakin dia tekuni dan menjalankan perintahNya, bukan orang yang males malesan, bukan orang yang meninggalkan amal baik namun mereka itu orang yang beriman, berhijarah, berjuang dijalan Allah, itulah orang orang yang berharap kepada Allah.