WHAT'S NEW?
Post Space...
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Dari ceramah Habib Jindan Novel bin Salim Jindan. 
Pengajian Rutin Maulid Malam Jum'at  Al Fachriyah  2017-03-09.

Hak seorang muslim yang wajib dilaksanakan atas muslim lain, yang pertama adalah mengucapkan salam, Jika kita berjumpa kasih salam jangan menunggu disapa dulu sehingga masing masing menunggu, kita harus memulai. Begitu ketemu muslim sapa dia dengan sapaan terbaik yaitu salam, itu adalah sapaan ahlul jannah (Ahli Surga) kasih salam itu yang pertama.

Itulah haknya muslim, siapa yang menyapa terlebih dahulu itu lebih afdol. Menjawab salam hukumnya adalah wajib, memberi salam hukumnya sunnah. Wahib sama sunnah lebih afdol wajib, tapi dalam kasus ini yang sunnah lebih afdol dari yang wajib. Dalam kasus salam, memulai salam walaupun itu sunnah maka lebih afdol daripada menjawab salam yang merupakan kewajiban.

Jadi haknya muslim kalau jumpa kasih salam. Jumpanya di angkot kasih salam, malu? Kenapa malu itu sunnahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jumpa di bis kasih salam, jumpa di pasar kasih salam. Jumpa di mall kasih salam. Nora dong? Hey ngikutin Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah mulia, yang melanggar sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam itulah yang nora di neraka.

Diantara hari kiamat itu orang orang gak ngasih salam kecuali sama orang yang dia kenal, yang dia gak kenal dia gak kasih salam. Itu akhir zaman tanda kiamat.
Begitu jumpa kasih salam, nanti takut dia non muslim?? Husnudzon. anggap saja semua orang muslimin, kasih salam. Biar semua orang tahu kalau islam syiar nya adalah salam, kalau islam itu damai.


pencarian terkait
Hukum mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal

Hak seorang muslim

Hokum mengucapkan salam

Hokum menjawab salam

Ciri seorang muslim

Salam adalah hak seorang muslim
Dalam Hadits dijelaskan bahwa:
قال رسول اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا وُضِعَ الْعَشَاءُ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ
صحيح البخاري

“Sabda Rasulullah SAW: “Jika sudah dihidangkan makan malam, lalu Iqamat shalat, maka mulailah dengan makan malam dahulu ” 
(Shahih Bukhari)
Dalam hadits diatas, dimana sekilas hadits ini terlihat sangat ringkas namun maknanya sangat luas, dimana ketika makan malam telah dihidangkan dan ketika itu juga akan dilaksanakan shalat isya’, maka dahulukanlah makan daripada shalat, mengapa demikian, padahal dalam hadits yang lain disebutkan bahwa diantara sebaik-baik perbuatan adalah melakukan shalat pada waktunya. Namun dalam hadits tadi kita diperintahkan untuk mendahulukan makan, maka dalam hal ini kita ingin memberi pemahaman kepada sebagian saudara-saudara kita yang mengatakan bahwa jika telah dikumandangkan iqamah untuk melakukan shalat maka diharamkan melakukan sesuatu yang lain selain shalat, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk makan terlebih dahulu jika makanan telah siap dihidangkan, mengapa demikian? karena jika melakukan shalat terlebih dahulu maka syaithan akan lebih mudah membisiki untuk segera mempercepat shalat karena makanan telah siap. Adapun orang-orang yang shalih, mereka akan makan secukupnya saja, karena mereka mengetahui bahwa jika mereka makan yang banyak maka mereka akan menghadapi shalat isya’ dalam keadaan yang berat dan payah, demikian indahnya didikan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Dan diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seseorang akan masih terhitung berada dalam shalat (pahala) selama ia menunggu waktu shalat berikutnya, karena menunggu suatu kebaikan adalah suatu kebaikan pula, oleh karena itu ketika makanan telah dihidangkan dan ketika itu akan dilaksanakan shalat, dan ketika makanan didahulukan maka termasuk dalam keadaan menunggu shalat, sehingga selama waktu makan pun hal itu terhitung dalam pahala melakukan shalat, karena menunggu sesuatu yang baik mendapatkan pahala kebaikan, sebagai contoh jika telah masuk waktu shalat namun belum juga dikumandangkan iqamah, maka waktu ketika menunggu iqamah untuk melakukan shalat hal itu terhitung dalam pahala shalat, jika seseorang menunggu dalam waktu 30 menit hingga shalat dilakukan maka dalam waktu itu pula terhitung mendapatkan pahala melakukan shalat, demikian indahnya sunnah-sunnah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
( Dari Alhabbib Munzir bin Fuad Almusawa ) 


 Kata kunci
adab nabi
hidangan makan
antara shalat dan makan
~~~Ceramah Habib Munzir Almusawa~~~ 

 
قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْه
(صحيح البخاري)

“Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh Allah SWT tidak menyiksa/murka dengan linangan airmata, tidak pula dengan kesedihan hati, namun Allah bisa murka atau bisa mengasihani sebab ini: seraya menunjuk lidah beliau SAW, dan sungguh mayyit disiksa sebab raungan keluarganya atas kematiannya” 
(Shahih Bukhari)
Seseorang yang menangisi orang yang telah wafat maka jenazah orang yang wafat itu tidak akan disiksa oleh Allah subhanahu wata’ala.
Sebagian muslimin memahami bahwa menangisi orang yang telah meninggal maka si mayyit akan disiksa, tidak demikian halnya bahkan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq menangis di depan jenazah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu menangis di hadapan seorang bayi yang telah wafat, begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalirkan air mata ketika putrinya wafat.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan menjelaskan bahwa Allah tidak akan menyiksa seorang yang telah meninggal karena tangisan orang-orang yang ditinggalnya dan tidak juga Allah menyiksa atas kesedihan hati orang yang ditinggalnya , karena sepantasnya seseorang bersedih jika ditinggal oleh kekasihnya, namun Allah subhanahu wata’ala bisa murka terhadap jenazah sebab ucapan mereka yang ditinggalkan atau mengasihinya .
Para imam ahlu hadits, diantaranya Al Imam Ibn Hajar Al Asqalni di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini adalah yang dimaksud bahwa lisan (ucapan) yang bisa menjadikan jenazah disiksa adalah orang-orang yang melakukan niyahah (berteriak/meronta-ronta) seakan tidak menerima takdi Allah subhanahu wata’ala, dan si mayyit semasa hidupnya tidak mengajarkan kepada keluarganya bahwa menyesali takdir Allah adalah hal yang tercela, maka Allah tampakkan kehinaan kepadanya dengan tangisan keluarganya atas meninggalnya, maka dalam hal seperti ini jika semakin para keluarga dan kerabatnya menangis maka ia akan semakin terhimpit dan tersiksa, karena ia tidak mengajarkan kepada mereka untuk menerima dan bersabar atas takdir yang diberikan Allah kepada mereka.
Maka dalam hadits tersebut tersimpan satu kata dan menjadi dalil yang jelas bahwa Allah bisa menyayangi jenazah sebab ucapan atau doa seseorang. Sebagian pendapat mengatakan bahwa orang yang telah meninggal maka amalnya terputus dan tidak lagi bisa sampai kepadanya amal apapun, akan tetapi orang yang masih hidup dapat menolong orang yang telah meninggal dengan doanya, hadits tadi merupakan salah satu dalil akan hal ini, dimana seorang jenazah bisa disiksa atau disayangi oleh Allah sebab lisan/ucapan orang yang hidup, jika orang yang masih hidup mendoakannya maka hal itu akan bisa merubah keadaannya di dalam kubur.

Adapun yang dimaksud ucapan orang yang masih hidup akan menjadi musibah bagi jenazah di alam kuburnya adalah niyahah, seperti berkata dengan berteriak sambil menangis : “jika si fulan tidak melakukan hal itu maka ia tidak akan meninggal”, dan lainnya dari ucapan-ucapan yang menunjukkan penyesalan atas kematian seseorang, hal itulah yang menjadikan si mayyit tersiksa di kuburnya. Namun sebagian ulama’ berpendapat bahwa selama si mayyit di masa hidupnya ia mengajarkan kepada keluarganya untuk tabah dan sabar atas takdir Allah subhanahu wata’ala, maka ia tidak akan mendapatkan kesulitan tersebut di kuburnya, namun yang akan mendapatkan kesulitan adalah keluarganya yang masih hidup.





























kata kunci:


Hukum menangisi orang yang telah wafat


Hukum menangisi orang yang telah meninggal


Hukum menangisi orang yang telah tiada


Menangis dikuburan


Menangisi mayit


Menangisi Jenazah

 ~~~ Dari Ceramah Alhabib Munzir bin Fuad Almusawa ~~~
Segala puji milik Allah subhanahu wata’ala Yang telah menerangi kita dengan cahaya, cahaya kehidupan, cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya kesucian, cahaya kemuliaan Allah, cahaya keluhuran Allah, hingga mengundang kita untuk sampai ke masjid, ke majelis, hadir di dalam istana keridhaan Allah subhanahu wata’ala sebagai tamu kasih sayang-Nya, Yang telah mengundang kita dengan kehendak-Nya untuk hadir dan memberikan taufiq kepada kita untuk sampai ke tempat mulia tersebut. Allah subhanahu wata’la, Yang telah menyampaikan kepada sang Nabi sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
“Barangsiapa yang kakinya berdebu di jalan Allah, niscaya Allah akan haramkan baginya api neraka”.
Kaki yang berdebu ketika dilangkahkan dalam perjalanan karena Allah, maka Allah memerintahkan kepada api neraka untuk tidak menyentuhnya. Jikalau hanya karena kaki yang berdebu saja telah Allah haramkan api neraka menyentuh mereka yang melangkah ke jalan Allah, maka terlebih lagi jiwa yang disentuhkan oleh Allah dengan iman, dengan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. 
Hadits yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
 فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قاَلَ لَا إِلهَ إِلَّا الله يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah, karena mencari ridha Allah dengan (perkataan) nya.”
Semoga Allah subhanahu wata’ala haramkan kita semua dari api neraka, amin. 
~~~Dari Ceramah Habib Ahmad Novel bin Salim bin Jindan~~~

Berdzikir bersama-sama, duduk bersama-sama, mengingat tentang Allah bersama-sama, menyebut-nyebut tentang karunia Allah, bermunazat bersama-sama kepada Allah SWT. Nah ini yang disebut dengan ijtima lidzikrillah (Berkumpul didalam mengingat Allah SWT) Hal itu dianjurkan didalam agama.

Didalam Hadits Shohih Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه
"Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya."


Kata kunci:
Majelis dzikir
hadits tahlilan
hadits maulid
Dzikir bersama
Ceramah Alhabib Ahmad Novel bin Salim Jindan. DI Masjid Almunawar (Majelis Rasulullah).

Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Al-Fajr Ayat 1 dan 2:
(1)               وَالْفَجْرِ
(2)               وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi Fajar. dan malam yang sepuluh”

Allah swt bersumpah demi waktu fajar dan demi malam malam yang sepuluh, ahli tafsir dalam hal ini memiliki berbagai pendapat sebagaimana imam As-suyuti  didalam Kitab Durrul Mantsur -nya beliau menyebutkan pendapat pendapat para ahli tafsir sebagian besar diantaranya menyebutkan bahwasanya yang dimaksud dengan sepuluh malam tersebut adalah sepuluh malam dari pada bulan Dzulhijah di awal Dzulhijah, dari awal malam pertama bulan Dzulhijah sampai malam ke sepuluh atau malam hari raya idul adha. Allah bersumpah dengan keagungannya, dan Allah tidak bersumpah melainkan dengan sesuatu yang agung disisi Allah SWT.

Apa yang dimaksud dengan “Demi Fajar” Waktu Fajar? Ulamapun punya pendapat sebagian besar bahwa waktu fajar merupakan waktu yang berkah, waktu diijabahnya doa waktu turunnya rahmat dari Allah SWT. Dan juga dalam ayat tersebut secara khusus dan dikhususkan oleh Allah adalah waktu fajar pada hari arafah, pendapat yang lain juga mengatakan adalah fajar idul adha. Sebab dihari idul adha maupun hari arafah merupakan hari yang berkah, dimulainya saat terbit fajar, terbit pula fajar rahmat Allah, fajar keberkahan Allah, fajar karunia yang besar dan ini semua adanya di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijah yang diagungkan oleh Allah SWT.

Sehingga amal ibadah disini ketika dilakukan oleh seorang hamba maka dilipat gandakan berkahnya, pahalanya oleh Allah SWT, sebab karunia Allah tidak bisa dibatasi dengan waktu dengan tempat, ga Cuma mereka aja yang ada ditanah suci, tapi kita juga disini kita juga dapat keberkahan dan karunia. Dan ini merupakan anjuran dari Rasulullah SAW agar kita memakmurkan waktu kita sebagaimana dibulan Ramadhan. Kita makmurkan dengan ibadah dengan ketaatan kepada Allah SWT.

Ulama bilang bahwasanya di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah dianjurkan untuk berpuasa, kalau bisa dari awal hingga hari ke-9 itu bagus, kalau ga bisa minimal dihari ke 9 tanggal 9 Dzulhijah, itu pahalanya besar.
Dalam Hadits ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ditanya oleh para sahabat tentang puasa dihari arafah, maka Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwasanya 

“Puasa di hari arafah (tanggal 9 Dzulhijah) itu mengampuni dosa 2 tahun, tahun yang lalu dan tahun berikutnya”

Puasa dihari Asyura mengampuni dosa 1 tahun tapi puasa di hari arafah mengampuni dosa 2 tahun, dosa terdahulu 1 tahun dan dosa yang akan datang 1 tahun.   Ulama bilang bahwa hadits ini merupakan kabar gembira dari Rasulullah SAW, ada 2 kabar gembira dalam hadits ini,
Kabar gembira yang pertama bagi orang yang berpuasa di hari arafah adalah pengampunan dosanya 2 tahun, tahun yang lalu dan tahun yang akan datang. Kabar gembira yang ke-2 bahwa inshaAllah orang yang berpuasa di hari arafah atau tanggal 9 Dzulhijah maka dengan izin Allah akan dipanjangkan umurnya sampai hari arafah tahun depan. Mengapa begitu? Ulama bilang (merujuk kepada hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam) bahwa kalau yang berpuasa dihari arafah diampuni dosa yang lalu satu tahun dan dosa yang akan datang satu tahun, nah bagaimana mau diampuni dosa yang akan datang jika orangnya tidak hidup. Makanya dalam ini hadits kabar gembira bahwasanya barang siapa yang berpuasa dihari arafah inshaAllah dia panjang umur sampai hari arafah berikutnya. Makanya yang bosen hidup jangan puasa.
Kita ga tau, ajal ditangan Allah SWT tapi kita dianjurin puasa. Dapat pengampunan Allah dan dapet panjang umur. InshaAllah.




kata kunci
Keberkaha Allah di waktu fajar
Keberkahan di 10 hari pertama bulan Dzulhijah
Puasa Arafah
Fadhilah Puasa Arafah 
Fadhilah Puasa 9 Dzulhijah
Dari Alhabib Ahmad bin Syueb. Ceramah Bahasa Sunda dalam kajian kitab syarh Ratib Alhaddad.

“Kanyahokeun ku anjeun bahwasanya jalmi anu mu’min, anu dipandang ku agama, anu pandangan mata nateh make agama, pandangan hatena make agama, pikiran nana make agama, anu jero anu panceug anu kuat anu pageh dina elmu jeng kayakinan nana adalah orang orang anu nga-aluskeun amalna keur Allah S.W.T, di alus alus.

Urang osok solat? Dialus alus teu solat urang? Urang osok ngaji Alquran? Alus teu atawa dialus alus teu ngaji Alquran urang? Urang osok sodakoh, dialus alus teu sodakohna? Dialus alus teu akhlaqna? Tah jelema anu mu’min anu jero elmuna, anu jero panceug kayakinan nana eta anu sok nga alus aluskeun amalna karena Allah.

Salah sahiji conto, Bedana jelema islam jeng jelema kafir teh ari jelema kafir tara solat jelema islam osok solat. Urang Alhamdulillah osok solat berarti urang kakarek oge muslim. Seperti salah seorang sahabat dongkap ka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata “Yaa Rasulullah Nahnu mu’minun” (Kami sadaya jalmi jalmi anu iman). Terus saur Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “Laa. Qul nahnu muslimun” ulah nyebut mu’minun tapi bejakeun abdi sadaya jalmi jalmi islam, ulah ngecap diri sebagai jalmi mu’min. Ulah waka ngomong ngomong ahli iman, anjeun karek oge ahli islam. 

Cirina islam osok solat, tah solat urang teh ges dialus alus can? Apa  karek ge gurupak gerepeuk nupenting mah ngalaksanakeun kewajiban? Urang kacida alusna lamun can solat ngarasa boga hutang. “can jongjon tuda ari can solat teh” misal, atawa durr ashar buru buru solat ngarah jongjon lalajo Persib, pan solatna urang mah ngarah jongjon lalajo lain karena Allah, bener? Pas durr isya "kela ulah waka kaluar ti imah ngarah jongjon ulin", Lain karena Allah berarti urang kakarek oge islam acan mu’min cenah.

Sasalaman urang ka indung ngarah tenang dijalan. Lain karena Allah deuih. “asa boga hutang ari kaluar teu sasalaman kaindung teh sieun cilaka” berarti can iman urang teh sabab lain karena Allah, tah ieu nu ngabedakeun urang jeng tingkatan para ulama, para mu’minun. “Atuh ari kitu mah ulah weh sasalaman”, nya sasalaman da urang islam. “Atuh ari kitumah ulah solat tapi lalajo persib weh hayoh”, nya solat hela da urang teh islam. “Atuh ari kitu mah keweh isya teh setengah dua peuting”, nya isya hela samemeh kaluar imah da urang teh islam. Adapun mu’min kadituna nya engke inshaAllah aya taufik ka urang sadaya urang menjadi mu’min. Nukumaha? Nu sok ngalus ngalus amalna da Allah ge teu ujug ujug mere.

Misal sholat dhuha, “ah urang mah 2 rakaat we sholat dhuha teh nu penting mah sholat dhuha” acan etateh acan mu’min karek ge islam, karek oge daek can ngalus ngalus. Dina hal taraweh “ah mening nu gancang taraweh mah nu lelet mah urang sok bari ngalamun jeng tunduh atuda padu tos dahar tea, kopi ge euweuh pangaruh, sabot ngopi weh leungit tunduh teh kopi beak nya tunduh datang deui” tah berarti urang karek islam, can iman.

Maka saur Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “tong nyebut iman tapi sebutkeun ente islam”.














Dari Alhabib Ahmad bin Novel Salim Jindan.

Sayyidina Jibril a.s beliau adalah salah satu dari sekian banyak malaikat-malaikat yang diciptakan Allah, beliau juga adalah salah satu dari 10 Malaikat yang wajib kita ketahui nama dan tugasnya. Dan beliau adalah pemimpin para malaikat.

Ulama bilang Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam turun dari langit bulak balik semasa hidupnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam itu sekitar 24.000 kali. MasyaAllah hampir tiap hari. Sayyidina Jibril seringkali datang kadang menyerupai manusia yang gak dikenal atau sosok yang dikenal, kadang gak dilihat sama orang biasa, yang lihat hanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sayyidina Jibril sering menjelma dengan sosok sahabat yang bernama Dihyah Al-qalbi.

Dihyah Alqalbi adalah orang arab yang paling ganteng dijamannya. Malaikat Jibril a.s sering kali datang dengan menjelma sebagai Dihyah Alqalbi sehingga orang menyangka ini adalah Dihyah Alqalbi. Seorang sahabat melihat Malaikat Jibril a.s yang menyerupai Dihyah Alqalbi itu menghilang lalu menyaksikan kedatangan Dihyah Alqalbi, Sahabat tersebut bertanya kepada Dihyah Alqalbi apakah orang yang tadi itu adalah Dihyah Alqalbi namun Dihyah Alqalbi tidak mengakuinya, Sehingga sahabat itupun menyadari bahwa sebelumnya adalah Malaikat Jibril a.s yang datang.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam juga menyaksikan Malaikat Jibril a.s dengan bentuk aslinya, dimana seumur hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan sebanyak dua kali, yang pertama adalah disaat Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam diawal kenabiannya, baru pertama kali kenalan sama Jibril a.s itulah sosok aslinya Malaikat Jibril a.s dan yang kedua disaat waktu mi’raz kelangit. Allah nyatakan dalam Alquran Surat An-Najm:

(13). وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

(14). عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
(yaitu) di Sidratil Muntaha.

(15). عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
Di dekatnya ada surga tempat tinggal,

(16). إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

(17). مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

(18). لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
 
Malaikat Jibril a.s dihiasi dengan 600.000 sayap dan setiap sayap menutupi langit dan bumi. Sayapnya berwarna hijau, dan dari sayapnya itu seakan akan berjatuhan mutiara mutiara yang indah. Seperti apa? ya ga tau kita disini ga pernah menyaksikan. Tapi ada ga orang yang pernah menyaksikan Malaikat selain Para Nabi? Jawabannya “ada”. Mungkin ane dan ente ga pernah ngeliat tapi malaikat bisa disaksikan oleh mereka orang orang yang dimuliakan oleh Allah untuk menyaksikan Malaikat. Bahkan para sahabat sampai beberapa dari mereka itu sampai dikenal dengan Jalisul Malaikat (Temen duduknya malaikat) saking seringnya berjumpa dengan malaikat, diantaranya adalah Sayyidina Imron bin Husein. Imron bin Husein ini adalah salah seorang sahabat yang seringkali menyaksikan malaikat dan seringkali menyaksikannya dalam tahajud.

Subhanallah… Mudah mudahan kita dimuliakan oleh Allah S.W.T








Kata Kunci
Sosok Malaikat Jibril
Malaikat Jibril Menyerupai Seseorang
Dihyah Alqalbi 
Berapakali Malaikat Jibril Menemui Rasulullah S.A.W







Dari Ceramah KH Abdullah Gymnasiar (Aa Gym) .
Dalam Kajian MQ Pagi.





Orang tawakal itu adalah orang yg paling sempurna ikhtiarnya, jadi kalau pontang panting kerja hati tidak ingat ke Allah itu tidak sempurna ikhtiarnya. 
Ada Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam riwayat Abu Daud, Tirmidzi:
“Jika/ apabila keluar seorang lelaki dari rumahnya dengan berkata “Bismillahi Tawakaltu ‘alallah laa haula walaquwata illa billah” (Dengan Nama Allah aku bertawakal kepada Allah, Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) Maka ia telah mendapat petunjuk, ia telah diberikan kecukupan dan ia diberikan pemeliharaan.”

Jadi kalau ada orang keluar dari rumah membaca “Bismillahi Tawakaltu ‘alallah laa haula walaquwata illa billah” (Dengan Nama Allah aku bertawakal kepada Allah, Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah). Doa tersebut akan berbuah 3 hal : Diberikan petunjuk, dicukupi, dilindungi/dipelihara. Dan syaitan waktu itu menjauh dan berkata: “Bagaimana kita bisa menipu orang yang sudah diberikan petunjuk, bagaimana kita bisa menyesatkan orang yang diberikan petunjuk, dicukupi dan dipelihara oleh Allah”

Sayangnya kita keluar rumah jarang pake doa ini, padahal kalau doa ini dipanjatkan dengan benar, penuh keyakinan kepada Allah dan Allah pasti tahu orang ini yakin atau tidak. 
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi diluar, kita tidak pernah tahu rezeki kita dimana yang sebenarnya paling berkah, tapi Allah tahu. 
Kita tidak tahu majelis ta’lim mana yang paling bisa mendekatkan kita kepada Allah, tapi Allah tau.
Kita tidak tau musibah apa yang akan menimpa, anjing mana yg akan menggigit, angkot mana yang akan nabrak, kita tidak tau keluar dari rumah kita apa yang akan terjadi. Tapi Dia Allah Maha Mengetahui.

Kitapun tidak tahu bagaimana kita memenuhi kecukupan kita, cukup itu bukan masalah lahiriah saja makan minum, oksigen juga kalau kurang bisa bermasalah, kurang tidur juga bermasalah. Kurang bisa mengendalikan nafsu juga bermasalah. Kita juga perlu ilmu, perlu kemampuan berpikir, perlu kemampuan mengendalikan nafsu dan itu cuma Allah yang bisa menolong kita.

Jadi jangan keluar dari rumah kecuali membaca doa “Bismillahi Tawakaltu ‘alallah laa haula walaquwata illa billah” (Dengan Nama Allah aku bertawakal kepada Allah, Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah).





kata kunci
Doa keluar rumah
bertawakal kepada Allah
memohon perlindungan Allah
meminta penjagaan Allah
tawakal adalah ikhtiar yang sempurna