WHAT'S NEW?
Post Space...
Tampilkan postingan dengan label Tariqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tariqh. Tampilkan semua postingan
 ~~~Dari Ceramah Alhabib Munzir bin Fuad Almusawa~~~

Segala puji milik Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha memuliakan kita untuk hadir dalam perkumpulan yang luhur ini, Yang Maha Bercahaya di atas segala yang bercahaya, Maha Menciptakan cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya kesejahteraan, cahaya kebahagiaan di dunia dan akhirat, hingga terang benderang jalan yang ditempuh oleh para hamba-hambaNya, jalan kebenaran dan keluhuran yang diterangi dengan matahari keridhaan Ilahi, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliaulah matahari kemuliaan Allah, matahari cinta dan kasih sayang Allah, matahari keindahan Allah, matahari pengampunan Allah, yang mana jika seseorang mengenal dan mengikuti tuntunan beliau, sampailah ia pada pengampunan dan keridhaan Allah, keindahan dan kasih sayang Allah sehingga didapatilah kebahagiaan di dunia dan akhirat serta jauh dari kemurkaan Allah subhanahu wata’ala karena ia akan meninggalkan hal-hal atau perbuatan yang hina di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Sampailah kita pada hadits luhur akan mu’jizat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah disampaikan oleh sayyidina Anas bin Malik RA, dimana suatu hari ketika telah masuk waktu shalat Asar dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat berada dalam perjalanan. 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَانَتْ صَلَاةُ الْعَصْر،ِ فَالْتَمَسَ النَّاسُ الْوَضُوءَ، فَلَمْ يَجِدُوهُ، فَأُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَضُوءٍ، فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي ذَلِكَ الْإِنَاءِ يَدَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يَتَوَضَّئُوا مِنْهُ، قَالَ، فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ، مِنْ تَحْتِ أَصَابِعِهِ، حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ
(صحيح البخاري)

“Dari Anas bin Malik Ra, kulihat Rasulullah SAW, dan sudah saatnya shalat ashar, maka orang orang mencari air, untuk wudhu namun tak menemukannya, maka dibawakan kepada Rasul saw bejana wadah tempat air berwudhu, maka Rasul saw menaruh tangan beliau SAW dan memerintahkan orang orang berwudhu dari wadah air itu, maka kulihat air mengalir deras bagai mata air dari bawah jari jari beliau saw, hingga orang orang berwudhu hinggga kesemuanya selesai” 
(Shahih Bukhari)
Dalam 2 riwayat yang lain yang terdapat di Shahihul Bukhari disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di wilayah Hudaibiyah, maka ketika itu para sahabat mencari air untuk berwudhu namun tidak mereka dapatkan, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta bejana air dan menaruhkan tangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam bejana air itu sehingga mengalirlah air dari bawah jari-jari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan derasnya, kemudian para sahabat berwudhu’ dengan air itu. Disebutkan dalam riwayat yang lain dalam Shahihul Bukhari bahwa ketika dalam perjalanan itu (Dalam perjanjian Hudaibiyyah) mereka berjumlah 1500 orang dan mereka semua menggunakan air itu untuk minum dan berwudhu, dan dikatakan oleh periwayat hadits bahwa meskipun jumlah orang di saat itu adalah 100.000 pastilah air tesebut tetap mencukupi mereka karena air itu terus mengalir dari jari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam hadits ini tersimpan makna bahwa ketika ummat dalam kesulitan dan kesusahan maka sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan hanya diam dan membiarkan mereka. Para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga akan dicintai oleh beliau shallallahu ’alaihi wasallam, dengan diberi syafaat oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia dan di akhirat .


kata kunci
Muzizat Nabi Muhammad SAW
Muzizat Rasulullah SAW

 
Sebagaimana yang terdapat dalam hikayat di surah Al Kahfi, ketika nabiyullah Musa As berjumpa dengan nabi Khidir As dan beliau ingin ikut bersamanya untuk belajar darinya, 

Maka nabi Khidir As berkata kepada nabi Musa, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ، وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
( الكهف : 67-68 )
“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” 
( QS. Al Kahfi : 67-68)
Dimana masing-masing dari mereka diberi ilmu yang berbeda oleh Allah, dimana nabi Khidir diberi ilmu yang tidak diberikan kepada nabi Musa begitu juga sebaliknya, namun derajat nabi Musa As lebih mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala karena nabi Musa juga sebagai rasul, akan tetapi Allah ingin menunjukkan bahwa ada ilmu yang Allah berikan kepada selain nabi Musa As, yang mana ia lebih rendah derajatnya dari beliau. Maka nabi Musa berkata kepada nabi Khidir bahwa ia akan senantiasa bersabar untuk belajar dan ikut bersamanya, kemudian keduanya naik ke sebuah kapal dan pemilik kapal itu mengetahui bahwa nabi Khidir adalah orang yang baik dan shalih, maka ia pun mempersilahkan mereka untuk naik ke kapalnya tanpa meminta upah atau bayaran dari mereka, setelah kapal itu mulai berlayar dan keluar dari pelabuhan, maka nabi Khidir turun ke dasar kapal dan melubanginya hingga kapal itu tenggelam, namun tenggelam dalam air yang masih dangkal karena belum jauh dari dermaga, melihat hal itu nabi Musa As berkata : “ Bagaimana engkau lakukan hal itu, padahal pemilik kapal ini orang yang baik”, kemudian nabi Khidir berkata sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
(الكهف : 72 )
“Dia (Khidihr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (QS. Al Kahf : 72)
Maka nabi Musa meminta maaf kepada nabi Khidir agar ia tidak mengindahkan ucapannya tadi agar ia tetap menempuh perjalanan bersamanya. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan, setelah sampai di suatu tempat mereka menemui anak kecil yang kemudian nabi Khidir membunuh anak tersebut, maka nabi Musa As pun berkata kepada nabi Khidir : “Mengapa engkau membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu, hal itu adalah perbuatan yang sangat munkar”, maka nabi Khidir pun berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
( الكهف : 75 )
“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku”.( QS. Al Kahf : 75)
Nabi Musa AS kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut, maka nabi Khidir berkata : “ Sekali lagi engkau menanyakan akan hal-hal yang kuperbuat dalam perjalanan selanjutnya, maka hal itu adalah akhir dari perjumpaan kita”. Dijelaskan oleh para ahlu tafsir, dimana karena nabi Musa As adalah seorang rasul yang juga memiliki tanggung jawab dan harus menegakkaan kebenaran, maka beliau tidak bisa hanya diam jika melihat suatu hal yang munkar, maka di ketiga kalinya ketika nabi Khidir berbuat hal yang salah, nabi Musa pun sengaja memprotes kembali nabi Khidir agar ia berpisah dengan nabi Khidir meskipun sebelumnya ia telah bersepakat untuk tidak lagi bertanya atau memperotes perbuatan nabi Khidir, karena beliau khawatir perbuatan nabi Khidir akan dipertanggungjawbakan oleh beliau kelak di akhirat. Kemudian mereka memasuki sebuah perkampungan dimana penduduk di kampung itu tidak mau menjamu mereka, maka nabi Khidir pun membangun satu tembok yang telah roboh di kampung itu, lalu nabi Musa berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا
( الكهف : 77 )
“Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.( QS. Al Kahf : 77)
Dan hal ini diucapkan oleh nabi Musa As agar beliau berpisah dengan nabi Khidir, kemudian nabi Khidir pun berkata kepada nabi Musa As sebagaimana firman Allah subhnahu wata’ala:
قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا ، أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا ، وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا ، فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا ، وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
( الكهف : 78 – 82 )
“Khidihr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. ( QS. Al Kafi : 78-82)
Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh nabi Khidir menyimpan hikmah, yang pertama dimana kapal yang yang ditumpangi nabi Khidir dan nabi Musa dibocorkan agar kemudian tenggelam, karena didepan telah menunggu kapal perampok yang akan merampas barang-barang di kapal yang mereka tumpangi, yang mana kapal itu berisi harta benda berupa emas, perak dan lainnya, dan kesemua itu tidak akan rusak dengan ditenggelamkan ke air, maka nabi Khidir memilih menenggelamkan kapal itu daripada dirampas oleh para perampok. Yang kedua, Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil karena kelak ketika tumbuh besar anak kecil itu akan menjadi orang fasik yang banyak melakukan kejahatan dan akan selalu menyusahkan dan menyedihkan kedua orang tuanya kelak, sedangkan orang tuanya adalah orang yang shalih sehingga Allah ingin meneganugerhkan kepada mereka seorang anak yang shalih dan berbakti kepada kedua orang tuanya, maka dengan kematian anak itu orang tuanya merasa sangat sedih, akan tetapi kesedihan itu seakan-akan Allah jadikan sebagai penebus untuk mendapatkan anak yang shalih. Hal yang ketiga, nabi Khidir membangun kembali tembok sebuah rumah yang hampir roboh karena didalamnya terpendam harta karun seorang keluarga untuk keturunannya mendatang yang miskin, yaitu keturunannya yang ketujuh, sehingga harta benda itu terjaga dan baru akan Allah keluarkan untuk keturunannya yang ketujuh, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab tafsir. Oleh karena itu, sangat banyak hal-hal yang tidak kita ketahui namun mengandung hikmah dan makna yang sangat besar. Maka kita harus memahami barangkali hal-hal yang tidak kita sukai sebanarnya baik untuk kita atau bahkan sebaliknya , seperti kejadian-kejadian yang telah dilakukan oleh nabi Khidir dan ketika itu nabi Musa pun mengingkarinya karena beliau tidak tau makna dibalik semua itu.


 (Ceramah Habib Munzir bin Fuad Almusawa)

 ~~~ Dari Ceramah Alhabib Munzir Almusawa ~~~
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam kitab Adab Al Mufrad, yang menukil hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Rasulullah bersabda bahwa nabi Nuh berwasiat kepada putranya :
يَا إِبْنِيْ أُوْصِيْكَ بِكَلِمَتَيْنِ :”سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا اللهُ
“ Wahai anakku, aku berwasiat kepadamu dengan dua kalimat : “ Subhanallah wabihamdihi, dan Laailaaha illallah”
Karena kalimat “Subhanallah wabihamdihi” adalah shalatnya seluruh makhluk Allah dan Allah memberi rizki kepada semua hamba-Nya dari kalimat “Subhanallah wabihamdih” kalimat itu mensucikan Allah, mengangungkan Allah, meluhurkan Allah, memuliakan Allah, sungguh Allah tidak butuh untuk dimuliakan, tidak butuh untuk disucikan, tidak butuh dipuji namun Allah menjadikan terpuji orang yang memuji Allah, membuat tersucikan orang yang mensucikan Allah, membuat mulia orang yang memuliakan Allah. Oleh sebab itu orang yang banyak mensucikan dan memuji Allah maka Allah akan limpahkan rizki, dan semakin banyak yang berbuat demikian maka akan semakin Allah limpahkan rizki secara hissi dan ma’nawi, zhahir dan bathin di dunia dan akhirah.
Adapun kalimat yang kedua yaitu “Laailaaha illallah”, jika kalimat ini ditimbang dengan seluruh alam yang ada maka kalimat ini akan lebih berat, karena seluruh kalimat tidak ada jika tidak ada Allah subhanahu wata’ala, maka berpadu seluruh kejadian, seluruh sifat dan pemikiran, seluruh ketentuan yang pernah terjadi atau yang akan terjadi kesemuanya tidak akan pernah terlepas dari rantai dan kekuatan kalimat“Laailaaha illallah”, maka inilah kalimat yang terkuat, kalimat yang terdahsyat, kalimat yang terluhur dan kalimat inilah yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang mengucapkan “Laailaaha illallah” dari dasar hatinya atau dari dirinya, maka dialah orang yang paling beruntung yang mendapatkan syafaatku”.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memulikan hari-hari kita dengan keluhuran, dengan cahaya dan kemuliaan Laailaaha illallah, dengan barakah Laailaaha illallah, dengan terbukanya pintu-pintu keluhuran dari kalimat Laailaaha illallah, dan mengalirnya air mata taubah dengan kemuliaan Laailaaha illallah, dan kerinduan kita kepada sang pemilik Laailaaha illallah, Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah membuka seluruh hati kita untuk rindu kepada Allah, rindu kepada Rasulullah, Ya Rahman Ya Rahim, alihkan seluruh sanubari kami untuk mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan hal itu mereka akan sampai kepada mahabbatullah …
~~~Dari Ceramah Alhabib Ahmad bin Novel Salim Jindan~~~

Ada seorang ahli ibadah, hidupnya seorang diri di saung, sampai ada orang hasud, benci sama dia lalu menyewa seorang pelacur untuk masuk ke tempat ibadahnya orang yang ahli ibadah ini serta mengganggunya agar dia yang ahli ibadah ini terjerumus karena tergoda oleh seorang pelacur.

Maka diwaktu yang ditentukan, dikegelapan malam, si pelacur ini masuk ke tempatnya ahli ibadah yang sedang beribadah. Begitu masuk, dengan kecantikan si pelacur ini membuka segalanya. Si ahli ibadah melihat begini apa yang dia lakukan? Dia menyalakan lilin lalu dia bakar jarinya sendiri satu persatu gak kuat kepanasan, kemudian dia ibadah lagi, habis selesai solatnya dia kembali lagi ke lilin lalu membakar jarinya lagi satu persatu lalu kepanasan dan melanjutkan ibadah lagi, begitu terus sampe shubuh gak ditoleh itu perempuan. Sampai ini perempuan cape sendiri lalu keluar.

Ketika ditanya kenapa, engkau bisa saja melakukan kemaksiatan tersebut dikegelapan malam? Lalu ahli ibadah ini menjawab “iya betul, dan memang terlintas dibenakku untuk melakukan, aku manusia. Tapi saat itu aku bentengi diriku dengan itu lilin, aku julurkan jariku, ketika aku merasakan panasnya aku kepanasan, saat aku kepanasan aku katakana kepada diriku, engkau tidak mampu wahai diriku menahan panas api dunia walau sedetik, lalu apakah engkau mampu menahan panasnya api neraka yang lebih panas dari api dunia ribuan tahun? Kalau engkau tidak mampu dengan panasnya api dunia, jangan sekali kali engkau menoleh pada kemaksiatan. Ini yang meredamku, aku balik lagi beribadah, saat aku beribadah syaitan membisikan aku lagi keinginan untuk melakukan, maka aku sodorkan tanganku lagi pada lilin itu. Agar merasakan bahwa panasnya api dunia aku tidak bisa tahan, bagaimana dengan panasnya akherat.”


Sampai akhirnya Allah melindungi dia. Dan intinya bahwa rasa takut kepada murka Allah, kepada api neraka, kepada siksa Allah itu akan mengerem seseorang, meredam seseorang dari kemaksiatan yang akan dia lakukan.



Kata kunci
Kisah Islami
Kisah penuh hikmah
Rasa takut
Panas api neraka
Kisah pelacur
Kisah tukang ibadah
Kisah ahli ibadah
Kisah lilin
Dari Alhabib Ahmad bin Novel Salim Jindan.

Sayyidina Jibril a.s beliau adalah salah satu dari sekian banyak malaikat-malaikat yang diciptakan Allah, beliau juga adalah salah satu dari 10 Malaikat yang wajib kita ketahui nama dan tugasnya. Dan beliau adalah pemimpin para malaikat.

Ulama bilang Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam turun dari langit bulak balik semasa hidupnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam itu sekitar 24.000 kali. MasyaAllah hampir tiap hari. Sayyidina Jibril seringkali datang kadang menyerupai manusia yang gak dikenal atau sosok yang dikenal, kadang gak dilihat sama orang biasa, yang lihat hanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sayyidina Jibril sering menjelma dengan sosok sahabat yang bernama Dihyah Al-qalbi.

Dihyah Alqalbi adalah orang arab yang paling ganteng dijamannya. Malaikat Jibril a.s sering kali datang dengan menjelma sebagai Dihyah Alqalbi sehingga orang menyangka ini adalah Dihyah Alqalbi. Seorang sahabat melihat Malaikat Jibril a.s yang menyerupai Dihyah Alqalbi itu menghilang lalu menyaksikan kedatangan Dihyah Alqalbi, Sahabat tersebut bertanya kepada Dihyah Alqalbi apakah orang yang tadi itu adalah Dihyah Alqalbi namun Dihyah Alqalbi tidak mengakuinya, Sehingga sahabat itupun menyadari bahwa sebelumnya adalah Malaikat Jibril a.s yang datang.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam juga menyaksikan Malaikat Jibril a.s dengan bentuk aslinya, dimana seumur hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyaksikan sebanyak dua kali, yang pertama adalah disaat Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam diawal kenabiannya, baru pertama kali kenalan sama Jibril a.s itulah sosok aslinya Malaikat Jibril a.s dan yang kedua disaat waktu mi’raz kelangit. Allah nyatakan dalam Alquran Surat An-Najm:

(13). وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

(14). عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ
(yaitu) di Sidratil Muntaha.

(15). عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ
Di dekatnya ada surga tempat tinggal,

(16). إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

(17). مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

(18). لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
 
Malaikat Jibril a.s dihiasi dengan 600.000 sayap dan setiap sayap menutupi langit dan bumi. Sayapnya berwarna hijau, dan dari sayapnya itu seakan akan berjatuhan mutiara mutiara yang indah. Seperti apa? ya ga tau kita disini ga pernah menyaksikan. Tapi ada ga orang yang pernah menyaksikan Malaikat selain Para Nabi? Jawabannya “ada”. Mungkin ane dan ente ga pernah ngeliat tapi malaikat bisa disaksikan oleh mereka orang orang yang dimuliakan oleh Allah untuk menyaksikan Malaikat. Bahkan para sahabat sampai beberapa dari mereka itu sampai dikenal dengan Jalisul Malaikat (Temen duduknya malaikat) saking seringnya berjumpa dengan malaikat, diantaranya adalah Sayyidina Imron bin Husein. Imron bin Husein ini adalah salah seorang sahabat yang seringkali menyaksikan malaikat dan seringkali menyaksikannya dalam tahajud.

Subhanallah… Mudah mudahan kita dimuliakan oleh Allah S.W.T








Kata Kunci
Sosok Malaikat Jibril
Malaikat Jibril Menyerupai Seseorang
Dihyah Alqalbi 
Berapakali Malaikat Jibril Menemui Rasulullah S.A.W






Dari Ceramah Alhabib Jindan bin Novel Salim bin Jindan
Di Majelis Rasulullah Masjid Almunawar Jakarta.


Salah seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Abdullah bin abbas r.a Beliau sampai bilang (Yang artinya):
“Disaat saya mencari ilmu agama, saya terhinakan dan mencicipi kehinaan. Namun ketika saya dicari, saya dihormati orang.”

Walaupun tujuan Beliau tidak mencari penghormatan dari siapapun juga, Beliau sempat menunggu dirumahnya Zaid bin Tsabit r.a seorang senior sahabat pada masa itu, Abdullah bin abas r.a menunggu di depan pintu rumah Zaid bin tsabit r.a ga mau ngetok dan ga mau beranjak dari pintu rumahnya. Suruh ngetok gak mau, pulang dulu gak mau namun Abdullah bin Abas menunggu kapan Zaid bin tsabit ada waktu lenggang keluar rumah dan Abdullah bin Abas ada disitu.

Maka Abdullah bin Abas sampai tertiup debu dikota tersebut sampai gak dikenal wajahnya saking banyaknya debu yang memenuhi muka beliau. Ketika Zaid bin Tsabit keluar rumah lalu memperhatikan Abdullah bin Abas, Zaid bin tsabit berkata “Abdullah bin Abas? Sepupu Rasulullah kenapa gak ngetuk pintu rumah saya?” Lalu Abdullah bin Abas menjawab “Saya gak mau mengganggu waktu istirahatmu, saya menunggu kamu senggang dan kamu keluar nah baru kita bahas kajian ilmu tersebut.”

Dilain waktu saat Zaid bin tsabit datang maka Abdullah bin Abas langsung berdiri menyambut Zaid bin Tsabit yang sedang naik keledai maka Abdullah bin Abas langsung menghampiri dan mengambil tali keledainya dengan cara dituntun oleh Abdullah bin Abas, Hal seperti itu biasanya dilakukan oleh pembantu atau budak, tapi Abdullah bin Abas sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal tersebut sampai Zaid bin Tsabit merasa tidak enak lalu beliau bilang kepada Abdullah bin Abbas :

“Wahai Sepupu Rasulullah, lepaskan, biarkan saja jangan dibawa” lalu dijawab oleh Abdullah bin Abas “Beginilah kita diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kita” maka Zaid bin Tsabit terdiam tidak bisa menjawab karena memang begitu ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Begitu Zaid bin Tsabit turun dari keledai maka dipeganglah tangan Abdullah bin Abbas lalu dicium oleh Zaid bin Tsabit. Maka Abdullah bin Abbas menjerit “kenapa engkau lakukan itu?” Maka Zaid bin Tsabit menjawab “Beginilah kita diperintahkan untuk memperlakukan keluarga Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka saling menghargai satu sama lain

Oleh Alhabib Ahmad bin Syueb
Dalam kajian kitab syarh ratib Alhaddad Bab Dzikir ke 7 Ratib Alhaddad
Ceramah Bahasa Sunda






Disebatkeun ku Syeikh Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Alhanafi dina syarh na kitab lam’atulbuniah nerangkeun dina kalimat kalam, asma na Allah S.W.T yaitu Albasiq (Yang Maha Luas) dicarioskeun bahwa :

Abi dharda mempunyai pembantu, yang pembantu ini memberikan racun kepada Abi Dharda selama 40 hari dan tidak memberikan madharat atau berdampak buruk kepada Abi Dharda karena Abi Dharda selalu membaca:



بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzii laa yadzurru ma'asmihi syai`un fil alrdli walaa fis samaa` wahuwas samii'ul 'aliim

(Dengan menyebut nama Allah yg tidak akan memberikan madharat jika menyebut nama-Nya baik yang ada di bumi & di langit, Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui)


Kemudian setelah 40 hari, pembantunya Abi Dharda ini jengkel dan berkata:
“Wahai Abi Dharda, anjeun teh dari jenis apa?”

Kemudian ceuk Abi dharda :
“Ana jenis adami, anak keturunan Nabiyullah Adam a.s seperti ente”

Kemudian pembantu ini berkata:
“Moal mungkin lamun ente seorang adami anak keturunan Nabiyullah Adam a.s bisa hidup sedangkan saya sudah memberikan racun kepada anda selama 40 hari”

Kemudian Abi Dharda menjawab:
“Apakah engkau tahu wahai pembantuku, bahwa orang yang berdzikir kepada Allah, dia tidak akan terkena madharat(kejelekan) apapun. Dan saya menyebutkan nama Allah S.W.T yang maha mulia yang maha agung”

Ceuk pembantu nateh:
“Naon atuh nama Allah S.W.T anu maha agung teh? Sehingga anjeun bisa salamet tina racun selama 40 hari”

Abi Dharda berkata:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Bismillahilladzii Laa yadzurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walafissama’i wahuwassamii’ul aliim”

Kemudian Abi Dharda balik bertanya:
“ Naon anu nyebabkeun ente boga niatan ngaracunan ana selama 40 hari?”

Kemudian pembantunya ini menjawab:
“Kabencian anjeun, ana teu resep ka anjeun, ana hayang anjeun teh euweuh, ana hayang anjeun teh maot”

Kemudian Abi Dharda setelah mendengar jawaban itu, Abi Dharda berkata:
“Kamu sekarang bebas karena Allah, jeng anjeun aya dina kahalalan tina naon anu geus dilakukeun kamari”


Abi dharda langsung ngabebaskeun tanpa syarat, pembantuna anu menang meuli dibebaskeun tanpa dianiyaya sedikitpun dibebaskeun begitu saja. Intina Abi dharda ngahampura, ngahalalkeun kana kalakuan pembantuna nu geus ngaracun anjeuna nana selama 40 hari.


Aya sababaraha point anu ku urang bisa diambil tina iyeu carita, Bahwa Allah S.W.T teu ngabohongkeun kana janjina. Ketika Allah berjanji :
“Barangsiapa yang menyebutkan namaKu maka dia tidak akan terkena madharat apapun”
Disini Allah membuktikan apa yang Allah katakan.

Kemudian poin yang kedua, dengan keimanan yang penuh, dengan keyakinan yang penuh Abi dharda kepada Allah S.W.T sehingga ketika memakan racun selama 40 hari, Abi Dharda selamat tina karacunan.

Poin yang selanjutnya, Abi dharda seorang jalmi anu pemaaf, seorang jalmi anu tidak memiliki dendam. Pembantu anu geus terang terangan nga aniaya nga dholiman ka Abi dharda selama 40 hari jeng terang terangan ngomong benci ka Abi Dharda, Abi dharda ngahampura jeung ngahalalkeun kana naon nu geus dilakukeun ka eta pembantu.


Iyeu anu jarang aya di urang, anu jarang dimiliki ku urang poin ka dua jeng ka tilu, urang jarang yakin bahkan tara yakin kana firman Allah S.W.T, loba wae raguna, sering wae ditimpa ku karaguan. Kenapa keraguan itu datang? Karena urang duduluran jeng syaitan. Karena urang selalu nuturkeun syaitan. Karena urang selalu migawe kalakuan syaitan. Sehingga karaguan ieuteh terus nempel diurang. Karena "keragu raguan" ti setan, bukan dari Allah. Anu ti Allah dibikeun ka urang teh "kayakinan". 




Kata kunci:
1. Kisah Abi Dharda makan racun
2. Pembantu yang meracuni Abi Dharda
3. Amalan penetralisir racun makanan
4. Keyakinan dan keragu raguan
5. Sifat pemaaf Abi Dharda