WHAT'S NEW?
Post Space...
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlak. Tampilkan semua postingan
~~Dari Ceramah Alhabib Ahmad Novel bin Salim bin Jindan~~

Habib Ali Alhabsy kasih kabar gembira buat kita sekalian, Beliau bilang yang artinya”Ga ada perkumpulan yang dapat mengangkat bala dan kesulitan yang lebih ampuh daripada perkumpulan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. 


Terus Beliau bilang inti dari perayaan maulid yaitu bahwa 
ini (perayaan maulid) adalah waktu taubatmu wahai yang tukang maksiat (kita semua tanpa terkecuali) apabila engkau ingin bertaubat kepada Allah. Ini waktu kembalimu wahai orang yang kabur dari rahmat Allah kalau engkau ingin balik kepada Allah SWT. Perkumpulan maulid tidak diragukan karena dosa-dosa diampuni Allah SWT. Terus Beliau bilang “Wahai hadirin dengarkan ucapanku dan ambil kabar gembira, inshaAllah sejak hari ini dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT, dari hari ini inshaAllah segara kekurangan kita diperbaiki oleh Allah SWT, Setelah hari ini ishaAllah taubat kita diterima Allah SWT, Allah mengampuni dosa dosa kita dan menggantikannya dengan kebaikan.”


Dahulu kake kami Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsy dalam acara maulid selalu berkata “Ketahuilah bahwasanya ditengah tengah kalian adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam” Kita ga melihat tapi mereka para auliya melihat, karena mereka orang orang yang dimuliakan oleh Allah yang memandang dengan Allah, yang mendengar dengan Allah, mereka adalah para kekasih Allah.
~~Dari Ceramah Aa Gym (KH. Abdulah Gymnatsiar)~~

Lidah ini seperti peluru keluar dari laras, kalau sudah keluar tidak bisa ditangkap, seperti panah melesat dari busur, sekali lepas uda ga ketangkep. Makanya yang paling bagus itu berfikir dulu lalu dirasa rasakan oleh hati, baru bicara.

Jangan sembarangan, mulut ini seperti pisau kalau kita tidak menjaganya maka bisa melukai kita. Mulut ini seperti binatang buas, kalau ga pandai mengendalikan kita yang diterkam, makanya jika ga penting penting amat bicara, maka diam. Kalaupun mau bicara mikir dulu, selesai mikir dirasa-rasakan. “ini benar tidak yang saya omongkan”, “perlu tidak saya katakana sekarang?”, “manfaat tidak?” lalu rasa rasakan apa nih niatnya? Nafsu dihati ini? Ingin pamer atau nyakitin? Itu pake rasa. Kalau uda lewat proses yakin manfaat baru bicara.

Bicara ini bisa ada ujub, bisa ada riya. Cape beramal lewat mulut maka hancur pahalanya. Bisa dengki, bisa bohong, bisa fitnah, bisa ghibah, bisa janji palsu. Makanya jika orang ingin selamat, jaga lisan. Caranya jaga lisan yaitu ingat Allah maha mendengar.

Dari Alhabib Ahmad bin Syueb.



Salah satu janji Allah SWT telah diperlihatkan kepada kita semua, ada dilingkungan kita semua, kita telah menyaksikan para ulama yang memuliakan Allah maka otomatis dimuliakan oleh Allah, para ulama yang berjuang dijalan Allah diberikan kemuliaan oleh Allah, mereka orang yang berjasa untuk ummat manusia, mereka orang yang bermanfaat untuk manusia, diberi kelebihan oleh Allah.

Para ulama bermanfaat untuk orang orang, baik ulama tersebut masih ada ataupun sudah wafat. Wafatnya para ulama seperti hidupnya, bahkan setelah meninggalnya lebih banyak lagi keberkahannya. Ketika seorang ulama masih ada mungkin orang orang sekitarnya masih segan, malu untuk bertemu, untuk datang. tapi ketika seorang ulama itu sudah wafat maka keberkahannya bertambah luas, bertambah lagi manfaat bagi orang orang, orang yang tadinya tidak mampu menjadi mampu karena berdagang disekitar makamnya, orang orang yang jauh bisa silaturahim datang dan bertemu soudara muslim lainnya, membaca Alquran dan berdzikir kepada Allah, karena wasilahnya satu orang ulama yang telah wafat.

Inilah janji Allah SWT, Keagungan semuanya milik Allah, ketika seorang berilmu dan bertaqwa kepada Allah maka Allah memberikan keagunganNya kepada orang tersebut. Kita telah menyaksikan para Auliya Allah SWT. Mudah mudahan bisa menjadi pelajaran dan menambah keimanan untuk kita semua.




Kata kunci

Ulama ahlussunnah

Keberkahan para ulama

Keberkahan orang yang berilmu

Menziarahi kuburan ulama adalah sunnah

Wafatnya para ulama
Dari ceramah AlHabib M. Rizieq.

Agama islam adalah agama akhlak. Dan ada 3 perkara untuk membentuk akhlak manusia yang baik yaitu yang pertama iman, islam dan ihsan. 

Kenpa kita bertauhid? Supaya akhlak kita baik, Kenapa kita dituntut menjalankan syariat islam? Supaya akhlak kita baik , Kenapa kita dituntut untuk menegakan nilai nilai ihsan? Supaya akhlak kita baik , Kenapa kita sholat 5 waktu? Supaya akhlaq kita baik, Kenapa kita berpuasa dibulan ramadhan? Supaya akhlak kita baik, Kenapa kita tidak boleh maksiat? Supaya akhlak kita baik, Kenapa kita mesti ikhlas, mesti qanaah, mesti sabar mesti bersyukur? Supaya akhlak kita baik. Kenapa kita harus memakan makanan yang halal yang baik yang toyib? Supaya akhlak kita baik.

Jadi sebetulnya inti dari pada ajaran islam yang kita tahu adalah Tauhid dan syariat yang keduanya tidak boleh dipisahkan daripada akhlak, omong kosong orang mengaku tauhidnya kuat kalau akhlak tidak ada, omong kosong orang mengaku sebagai pejuang syariat kalau akhlak tidak ada. Tauhid yang kuat harus melahirkan akhlak yang baik, melaksanakan syariat yang optimal harus melahirkan akhlak yang baik.

Nabi Shalallahu’alaihi wasallam bersabda:


  النبي ص م: إِنَّمَا بُعِثْتُ لاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus, (tiada lain, kecuali) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Jadi seluruh ajaran islam, baik menyangkut iman, islam maupun ihsan, baik menyangkut tauhid maupun menyangkut syariatnya semua ditujukan untuk membentuk akhlaqul karimah. Karena itu didalam kehidupan kita ini wajib untuk memperhatikan dan intropeksi diri masing masing tentang bagaimana akhlak kita, baik Akhlak kita kepada Allah, Akhlak kita kepada Nabi, Akhlak kita kepada para malaikat, Akhlak kita kepada Alquran, Akhlak kita kepada ulama, Akhlak kita kepada orang tua, Akhlak kita kepada keluarga, Akhlak kita kepada tetangga, Akhlak kita kepada para sahabat, Akhlak kita kepada sesama muslim.





Video full  DISINI




Dari Ceramah Alhabib Luthfi bin Yahya. Acara Maulid Nabi di Pekalongan


Adanya peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menambah sejauh mana pengertian kita mengenal baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sekedar keimanan. Kalau iman kita percaya bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah, tapi siapa Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Disamping Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah juga mengetahui jika Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terpilih, bukan manusia biasa tapi manusia luar biasa.

Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dipanggil oleh yang menciptakannya “Ya Muhammad” atau “Ya Ahmad” tapi selalu dipanggil dengan kebesaran-kebesarannya “Ya ayyuhannabiy” “Ya ayyuhrrasul” “Ya mujammil” dll.

Mengapa timbulnya kemaksiatan dan lain sebagainya? Karena melenturnya kecintaan kepada Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka dengan adanya Maulid Nabi bisa menjadi jembatan untuk lebih jauh mengenal Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Tidak mungkin orang berpegang Alquran dan Hadits tapi tidak kenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tidak kenal sejauh mana cintanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena pintunya Alquran, pintunya menafsirkan Alquran adalah Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Itulah diantaranya.

Perilakunya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Alquran. Maka dari itu sudah sewajarnya kita selaku ummat mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ada golongan yang katanya mencintai Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan keturunannya (Habaib) tapi benci kepada sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam itu BOHONG. Ada golongan seneng kepada Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan keturunannya tapi tidak senang kepada para ulama itu BOHONG, ada juga yang mencintai para ulama para wali tapi tidak mengakui keturunan Nabi (Ahlul bait) itu BOHONG. Karena mereka itu tidak bisa dipisahkan.


Maka dari itu dengan adanya peringatan Maulid Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kita mengangkat sejarahnya para Beliau – Beliau sehingga kita lebih mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, para sahabatnya, Ahlul bait nya dan para pewarisnya sehingga kita tidak menjadi umat yang kepaten obor (Terputusnya pengetahuan sejarah leluhur)
Dari Ceramah Alhabib Luthfi Bin Yahya di Kota Pacitan Jawa Timur.



Berbeda ketika Allah memanggil kepada para Nabi dan para Rasul sebelum Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, seperti Yaa Musa, Wahai Isa, Wa Ya Ibrohim dsb. Tapi memanggil kepada Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dipanggil Ya Muhammad atau Ya Ahmad, selalu dipanggil dengan kebesarannya Ya ayyuhannabiyy, Ya ayyuharrasul, Ya muzzammil, dsb. Jelas membedakan sekali kalau Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan manusia biasa tapi manusia luar biasa.


Dari hal itu panggilan kata “Sayyidina” atau panggilan dengan gelar gelarnya menunjukan untuk kewibawaan kepada umatnya, baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sudah ga perlu wibawa dari umatnya, sudah lebih lebih wibawa yang diberi oleh Allah untuk Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan rahmat yang Allah berikan kepada Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Jika seluruh umat dari Nabi Adam a.s sampai manusia terakhir dikumpulkan kecintaannya kepada Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam belum apa apa dibanding kecintaan Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya.


Jadi panggilan itu untuk menunjukan yang mendapatkan rahmah yang mendapatkan wibawa justru orang yang memanggil Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam “Sayyidina”, contoh yang riil yang mudah kepala desa atau pak RT umurnya terkadang lebih muda dari kita, atau lebih tua dari kita. Tapi bagaimanapun walaupun mereka lebih muda beliau sudah diangkat menjadi bapak sekampung, bapak se-desa maka tidak ada salahnya jika kita memanggilnya “Pak Lurah”, “Pak RT”, 
kalau Pak lurah itu sebaya anak kami atau umurnya dibawah kami maka panggilannya “Nak Lurah”, “De Lurah”, dsb. Panggilan ini mengangkat martabat orang yang memanggilnya karena “barang siapa orang yang bisa menghormati dirinya sendiri pasti akan menghormati orang lain”. 


Demikianlah islam mengajarkan akhlaq wal adab dituntun oleh Allah SWT. Seraya bersabda (QS An-nur 64):
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

Artinya: Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). 

Allah SWT tidak pernah memanggil Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan Ya Muhammad atau Ya Ahmad, demikian nilai nilai akhalaq. Demikian warga desa yang terangkat karena panggilan kepada bapak lurahnya lalu terlebih lagi kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bisa disebandingkan derajatnya dengan siapapun.

.
kata kunci
sayyidina Muhammad SAW
Mengapa menggunakan kata sayyidina
Alasan kata Sayyidina
Hukum menggunakan kata sayyidina


Dari Alhabib Luthfi bin Yahya
Dalam Acara Peringatan Isra Mi'raz di Kota Malang


Suatu hari saya (Habib Luthfi bin Yahya) ditanya, Bib keistimewaan ziarah Wali Songo itu apa?... "Isin".

Lho, bukan barokah bib? Engga, terlalu jauh, saya malu sama Walisongo. Ya Allah. 
Sunan Ampel setiap hari ngajak orang tahlil, berdzikir berapa ribu orang. Membaca tasbih berapa ribu orang, membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berapa ribu orang, membaca Alquran berapa ratus orang.

Kita seharusnya mengajak habis maghrib kumpulkan anak-anak kita kenalkan pada datuk-datuk kita pada sesepuh kita, siapa kyai-kyai diwilayah kita ini kita kenal semua atau tidak? Setiap malem jumat ditiap pondok kita ramaikan "ila hadrotin mbah kyai fulan, kyai fulan, kyai fulan, sampai para Habaib yang kita kenal dan lainnya. Coba kita kenalkan setiap habis maghrib, tidak cukup itu saja, kenalkan siapa Diponogoro, siapa kyai Mojo, Sentot Parawirodirjo sampai ke Jendral Sudirmannya. 
Kita sudah lupa pada para Beliau. Padahal mereka itu yang sudah ikut andil kepada bangsa ini kepada republik ini. Kita pernah ikut andil apa? Tanya pada diri sendiri.

Kaya makanan yang sudah ada dimeja kita tinggal makan tapi kita ribut terus. 

Sunan Ampel dikuburan masih bisa mempersatukan umat, yang ziarah siapapun tidak pernah ditolak, oleh juru kuncinya pun tidak pernah ditanya ini partainya apa? Bajunya apa? Ga pernah. 
Ko kalah sama orang mati sih bisa mempersatukan umat? Membuat pasar pasar kecil, ekonomi kerakyatan dilingkungan Sunan Ampel, Sunan Ampel sudah wafat 500 tahun yang lalu masih bisa mempersatukan umat, membuka ekonomi bagi umat, masih bisa menyantuni lingkungannya. Kita ini bisa apa? Kita Malu.


Muka saya ini ditaro dimana ini orang sudah mati masih bisa ngajak dakwah, masih bisa menyantuni lingkungannya bahkan kadang orang yang anti ziarah ikut jualan disitu. Luar biasa. Ini fakta, realita ini tidak bisa dipungkiri bahwa Sunan Ampel sekarang masih bisa menjadi sabab memberi makan pada yang hidup. Belum Wali-Wali yang lain. MasyaAllah.
Ceramah KH. Abdullah Gymnasiar



Kita harus tafakuri ada pertanyaan seperti ini:

Mengapa orang itu rajin ibadah, rajin ke masjid tapi ko kelakuannya seperti yang kurang berubah? Mengapa ibu itu ke pengajian nya rajin bahkan seperti makan obat sehari tiga kali tapi yang berubah hanya seragamnya, sedangkan perilakunya awet dalam kekurangan? Kenapa orang itu pengurus masjid tapi tega kotak infaq diamankan oleh pribadinya? Mengapa itu lulusan perguruan tinggi agama, paham agama, sarjana agama tapi ko perilakunya seperti yang jauh dari agama? Kenapa itu ustadz penceramah sibuk mengajak orang lain kebaikan tapi ko perilaku sehari harinya seperti beda dengan yang diceramahkan?

Satu yang menyebabkan kita susah beramal padahal rajin ke majelis ta’lim yang pertama adalah boleh jadi kita salah niat. Allah maha mengetahui “dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada didalam hati, mau engkau rahasiakan atau engkau jaharkan, Allah tahu isi hatimu

Datang ke Majelis ta’lim belum tentu seluruhnya ingin dekat dengan Allah. Allah itu tidak bisa dibohongi, walaupun tubuh kita sujud kepada Allah, belum tentu menurut pandangan Allah hatinya mau sujud. Walaupun pake sorban pake kopeah haji pake kerudung, belum tentu hatinya ingin dekat dengan Allah. Penampilan sorban ini boleh jadi ada keinginan duniawi dibalik penampilan ini. Ingin dianggap sholeh, ingin disegani, ingin dihormati, bukan untuk menghormati. Ingin dikenal banyak hafalannya, ingin dikenal sebagai ahli majelis ta’lim.

Kalau salah niat dari awal berarti tidak sampai ke Allah. Jaminan Allah bahwa amal itu tergantung dari niat. Ada ahli ibadah tapi tidak berubah juga, karena boleh jadi ibadahnya untuk duniawi. Dia ke masjid tiap shubuh tapi memang nikmatnya ingin dianggap sebagai ahli masjid. Jadi dia mempertahankan ke masjid supaya orang mengagumi dia.

Coba mana yang bahaya bagi ibu ibu, ingin kelihatan cantik apa ingin kelihatan sholehah? Kalau ibu ibu ingin kelihatan cantik, normal karena wanita, kalau laki laki ingin kelihatan cantik itu abnormal. Tapi kalau ibu ibu ingin kelihatan sholehah berarti dia sibuk mencari kedudukan dalam penilaian makhluk. Harusnya bukan ingin dianggap sholehah tapi ingin menjadi Sholehah, kalau ingin dianggap sholehah pasti kita ngebangun topeng dengan penampilan, dengan gerakan, tujuannya supaya orang menilai sholehah. Tapi kalau ingin jadi sholehah ga ada urusan dengan penilaian orang.
Siapapun yang niatnya hanya untuk duniawi, cenderung yang dibangun adalah topeng. Siapapun yang mencari kedudukan dihati manusia, lebih sibuk membangun topeng, ingin dipuji, dihargai, dikagumi. Dikagumi seluruh dunia tapi Allah tidak ridho, udah hancur kita ini.

Ayo kalau kita mau kemana mana kita berpikir dulu mau apa maksudnya ini. Periksa niat. Karena niat yang salah akan merusak. Ada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tentang dua orang yang berkelahi akhirnya yang satu terbunuh tapi keduanya masuk neraka. Kenapa yang dibunuh masuk neraka? Karena dia kalau ga terbunuh pasti membunuh. Jadi sudah ada niat membunuh hanya saja kebagian mati tapi dosanya udah dapet.

Ustadz Yusuf Mansur Ceramah dan bertanya (kepada jamaah): “Acungkan tangan siapa yang sudah niat jadi hafidz?” ternyata belum pada niat, ga ada yang ngacung.

Padahal niat saja jadi hafidz, kalau kita wafat inshaallah dapat pahalanya, tapi da ini mah niat juga engga. Padahal niat mah ga berat ya.


VIdeo selengkapnya disini


Oleh Alhabib Ahmad bin Syueb


Apakah mereka para ulama yang telah wafat membutuhkan acara HAUL? Apakah Orang Orang yang sudah berbahagia dan sudah berdampingan dengan orang orang yang lebih mulia, sudah berdampingan dengan derajat orang orang yang lebih tinggi, untuk apa diadakan acara HAUL?

Judulnya juga “peringatan” atau “memperingati”, yang berarti mengingat, mengulang. Lalu apa yang harus diingat?  Yaitu Pekerjaan orang tersebut, pekerjaan orang yang sedang diingat oleh kita. Lalu apa pekerjaannya sehingga mendapat gelar Waliyullah? Sehinggakan mempunyai santri santri yang banyak? Yang santri santri itupun memiliki santri santri kembali.


Hal tersebut menjadi ibrah buat kita semua, ketika kita melihat pemakaman seorang wali, seorang ustadz, seorang kyai banyak didatangi orang. 
Dimanapun  orang itu datang ketika mendengar seorang ulama meninggal, langsung mereka datang. Apa yang membuat mereka datang memaksakan diri  ke tempat tempat meninggalnya orang seperti itu? Terkecuali hatinyalah yang digerakan Oleh Allah S.W.T untuk datang. Karena Allah ingin memperlihatkan bahwa kita harus seperti orang tersebut yang memegang amanah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Karena orang tersebut yang merangkul umat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan membenci umat, bukan menjerumuskan ke hal yang buruk. Inilah yang perlu kita ambil dari setiap peringatan yang diperingati oleh kita setiap orang orang sholeh meninggal.



Rekaman lengkap klik disini 



Kata kunci
Alasan peringatan haul?
Mengapa diadakan acara haul?
Untuk apa acara haul?
Oleh : Alhabib Luthfi bin Yahya

Pernahkah air sungai atau air bah yang mengalir ke laut itu merubah asinnya air laut menjadi tawar? Laut mempunyai jatidiri, laut mempunyai kepribadian, dan penghuninya juga hebat, tidak ada orang beli ikan laut tanpa diasini lagi padahal ikan itu hidup dilaut. Mengapa tidak asin? Mengapa tidak terkontaminasi? Padahal ikan laut hidup dilaut yang asin.

Umat islam mempunyai jatidiri, tidak mudah cepat terpengaruh oleh apapun dalam menjaga aqidah ini, tidak cukup dengan uang lalu pindah aqidah, tidak. Maaf saja umpama dibikinkan masjid sudah berubah. 
Berarti laut itu sudah memberikan contoh sama kita. Begitupun penghuni lautnya juga sama.

Bagaimana selaku anak bangsa? Tanah airnya terjaga dengan baik, bangsanya terjaga dengan baik, tidak mudah terkontaminasi, mempunyai harga diri mempunyai jatidiri. Budaya tetap masuk tapi kita tidak tergilas oleh budaya, karena apa? Karena kita mempunyai jatidiri, mempunyai kecintaan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, kecintaan kepada Allah ta’ala, kecintaan pada para ulama, kecintaan kepada auliya, kecintaannya kepada bangsa ini, kecintaannya kepada republik ini.


Maaf saja saya memang sering kemana mana berbicara masalah NKRI, karena kita sudah mulai banyak melentur nasionalismenya, melentur kecintaan kepada republik dan bangsa ini. Ini yang paling mengkhawatirkan. Kalau sudah kecintaannya mulai melentur maka bangsa itu paling mudah digoyah, jangan menyalahkan budaya orang lain masuk, karena apa? Kita sudah bosen dengan budaya kita sendiri, tidak dibangkitkan kecintaannya kepada bangsa ini dan budaya ini. Padahal budaya kita yang kita miliki lebih kaya. Bangkitkan dulu rasa kecintaannya, cinta kepada tanah airnya, cinta kepada bangsa ini.





Kata kunci:
Air laut mempunyai kepribadian
Air laut telah memberikan contoh pada kita
Kecintaan kepada bangsa ini
Bangkitkan rasa nasionalisme
Muslim mempunyai jatidiri
Oleh : Alhabib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan

Jangan kita masuk ke rumah orang lain nyelonong begitu aje. Ga boleh. Tapi harus izin. harus ucapin salam, ketok pintu, bila ga dijawab maka ucapin salam lagi yang kenceng, ketok pintunya lagi. Sampai 3 kali ga ada yang jawab, uda angkat kaki, ga boleh dilanjutin. Kalau ngelanjutin ngeganggu namanya. Itu berarti kaga ada orang atau yang punya rumah lagi ga mau ketemu orang. Balik lagi lain waktu nanti. Begitu anjurannya. Kecuali memang ada hal yang mendesak itu urusan laen. Tapi umumnya seperti itu.


Begitu juga telepon, nte nelpon sekali ga di angkat, nelepon lagi yang ke dua ga diangkat juga, sampai tiga kali ga diangkat maka uda selesai, cari waktu laen. Kecuali hal mendesak itu laen urasan, itu pengecualian.


Ada satu hal yang penting, bahwa sebelum kita diizinkan untuk masuk rumah, mata kita pun jangan ngeliat ke dalam rumah makanya kita diajarin ketika kita berdiri dipintu orang untuk bertamu, bukan berdiri pas didepan pintunya menghadap ke dalem rumah hingga bisa melihat isi rumah, tapi berdiri disamping dan tidak menghadap dan melihat kedalem rumah, nunduk ke bawah ketok pintu, kalau memang dibukakan juga jangan melihat kedalem sebelum diizinkan. Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam ngajarin begitu. Sampai Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam bilang “diberikan izin itu supaya ente melihat.” Ini kan hal pribadinya orang, ga semua hal ente mesti tau, hargai ke khususan orang lain, hargai kepribadian orang lain.


Jadi biasain sekarang kalau ngetuk pintu orang bukan berdiri pas pintunya ngadep ke dalam rumah, itu ga boleh. Tapi berdiri disamping, tundukin kepala. Orang punya rumah ngebuka pun ga boleh ngeliat ke dalem sebelum di izinkan. Hukumnya dosa kalau tidak begitu, itu ente ga punya hak melihat ke dalem. Kadang di dalem rumah ada perempuan, ada keluarganya yang gak mau dilihat sama orang. Belum dipersilahkan masuk ya kita tunggu diluar.