WHAT'S NEW?
Post Space...
Sebagaimana yang terdapat dalam hikayat di surah Al Kahfi, ketika nabiyullah Musa As berjumpa dengan nabi Khidir As dan beliau ingin ikut bersamanya untuk belajar darinya, 

Maka nabi Khidir As berkata kepada nabi Musa, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ، وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
( الكهف : 67-68 )
“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku, dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.” 
( QS. Al Kahfi : 67-68)
Dimana masing-masing dari mereka diberi ilmu yang berbeda oleh Allah, dimana nabi Khidir diberi ilmu yang tidak diberikan kepada nabi Musa begitu juga sebaliknya, namun derajat nabi Musa As lebih mulia di sisi Allah subhanahu wata’ala karena nabi Musa juga sebagai rasul, akan tetapi Allah ingin menunjukkan bahwa ada ilmu yang Allah berikan kepada selain nabi Musa As, yang mana ia lebih rendah derajatnya dari beliau. Maka nabi Musa berkata kepada nabi Khidir bahwa ia akan senantiasa bersabar untuk belajar dan ikut bersamanya, kemudian keduanya naik ke sebuah kapal dan pemilik kapal itu mengetahui bahwa nabi Khidir adalah orang yang baik dan shalih, maka ia pun mempersilahkan mereka untuk naik ke kapalnya tanpa meminta upah atau bayaran dari mereka, setelah kapal itu mulai berlayar dan keluar dari pelabuhan, maka nabi Khidir turun ke dasar kapal dan melubanginya hingga kapal itu tenggelam, namun tenggelam dalam air yang masih dangkal karena belum jauh dari dermaga, melihat hal itu nabi Musa As berkata : “ Bagaimana engkau lakukan hal itu, padahal pemilik kapal ini orang yang baik”, kemudian nabi Khidir berkata sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
(الكهف : 72 )
“Dia (Khidihr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (QS. Al Kahf : 72)
Maka nabi Musa meminta maaf kepada nabi Khidir agar ia tidak mengindahkan ucapannya tadi agar ia tetap menempuh perjalanan bersamanya. Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan, setelah sampai di suatu tempat mereka menemui anak kecil yang kemudian nabi Khidir membunuh anak tersebut, maka nabi Musa As pun berkata kepada nabi Khidir : “Mengapa engkau membunuh anak kecil yang tidak berdosa itu, hal itu adalah perbuatan yang sangat munkar”, maka nabi Khidir pun berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
( الكهف : 75 )
“Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku”.( QS. Al Kahf : 75)
Nabi Musa AS kembali meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal tersebut, maka nabi Khidir berkata : “ Sekali lagi engkau menanyakan akan hal-hal yang kuperbuat dalam perjalanan selanjutnya, maka hal itu adalah akhir dari perjumpaan kita”. Dijelaskan oleh para ahlu tafsir, dimana karena nabi Musa As adalah seorang rasul yang juga memiliki tanggung jawab dan harus menegakkaan kebenaran, maka beliau tidak bisa hanya diam jika melihat suatu hal yang munkar, maka di ketiga kalinya ketika nabi Khidir berbuat hal yang salah, nabi Musa pun sengaja memprotes kembali nabi Khidir agar ia berpisah dengan nabi Khidir meskipun sebelumnya ia telah bersepakat untuk tidak lagi bertanya atau memperotes perbuatan nabi Khidir, karena beliau khawatir perbuatan nabi Khidir akan dipertanggungjawbakan oleh beliau kelak di akhirat. Kemudian mereka memasuki sebuah perkampungan dimana penduduk di kampung itu tidak mau menjamu mereka, maka nabi Khidir pun membangun satu tembok yang telah roboh di kampung itu, lalu nabi Musa berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:
لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا
( الكهف : 77 )
“Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.( QS. Al Kahf : 77)
Dan hal ini diucapkan oleh nabi Musa As agar beliau berpisah dengan nabi Khidir, kemudian nabi Khidir pun berkata kepada nabi Musa As sebagaimana firman Allah subhnahu wata’ala:
قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا ، أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا ، وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا ، فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا ، وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
( الكهف : 78 – 82 )
“Khidihr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. ( QS. Al Kafi : 78-82)
Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh nabi Khidir menyimpan hikmah, yang pertama dimana kapal yang yang ditumpangi nabi Khidir dan nabi Musa dibocorkan agar kemudian tenggelam, karena didepan telah menunggu kapal perampok yang akan merampas barang-barang di kapal yang mereka tumpangi, yang mana kapal itu berisi harta benda berupa emas, perak dan lainnya, dan kesemua itu tidak akan rusak dengan ditenggelamkan ke air, maka nabi Khidir memilih menenggelamkan kapal itu daripada dirampas oleh para perampok. Yang kedua, Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil karena kelak ketika tumbuh besar anak kecil itu akan menjadi orang fasik yang banyak melakukan kejahatan dan akan selalu menyusahkan dan menyedihkan kedua orang tuanya kelak, sedangkan orang tuanya adalah orang yang shalih sehingga Allah ingin meneganugerhkan kepada mereka seorang anak yang shalih dan berbakti kepada kedua orang tuanya, maka dengan kematian anak itu orang tuanya merasa sangat sedih, akan tetapi kesedihan itu seakan-akan Allah jadikan sebagai penebus untuk mendapatkan anak yang shalih. Hal yang ketiga, nabi Khidir membangun kembali tembok sebuah rumah yang hampir roboh karena didalamnya terpendam harta karun seorang keluarga untuk keturunannya mendatang yang miskin, yaitu keturunannya yang ketujuh, sehingga harta benda itu terjaga dan baru akan Allah keluarkan untuk keturunannya yang ketujuh, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab tafsir. Oleh karena itu, sangat banyak hal-hal yang tidak kita ketahui namun mengandung hikmah dan makna yang sangat besar. Maka kita harus memahami barangkali hal-hal yang tidak kita sukai sebanarnya baik untuk kita atau bahkan sebaliknya , seperti kejadian-kejadian yang telah dilakukan oleh nabi Khidir dan ketika itu nabi Musa pun mengingkarinya karena beliau tidak tau makna dibalik semua itu.


 (Ceramah Habib Munzir bin Fuad Almusawa)
~~~Ceramah Habib Munzir Almusawa~~~ 

 
قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْه
(صحيح البخاري)

“Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh Allah SWT tidak menyiksa/murka dengan linangan airmata, tidak pula dengan kesedihan hati, namun Allah bisa murka atau bisa mengasihani sebab ini: seraya menunjuk lidah beliau SAW, dan sungguh mayyit disiksa sebab raungan keluarganya atas kematiannya” 
(Shahih Bukhari)
Seseorang yang menangisi orang yang telah wafat maka jenazah orang yang wafat itu tidak akan disiksa oleh Allah subhanahu wata’ala.
Sebagian muslimin memahami bahwa menangisi orang yang telah meninggal maka si mayyit akan disiksa, tidak demikian halnya bahkan sayyidina Abu Bakr As Shiddiq menangis di depan jenazah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dulu menangis di hadapan seorang bayi yang telah wafat, begitu juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalirkan air mata ketika putrinya wafat.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dan menjelaskan bahwa Allah tidak akan menyiksa seorang yang telah meninggal karena tangisan orang-orang yang ditinggalnya dan tidak juga Allah menyiksa atas kesedihan hati orang yang ditinggalnya , karena sepantasnya seseorang bersedih jika ditinggal oleh kekasihnya, namun Allah subhanahu wata’ala bisa murka terhadap jenazah sebab ucapan mereka yang ditinggalkan atau mengasihinya .
Para imam ahlu hadits, diantaranya Al Imam Ibn Hajar Al Asqalni di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini adalah yang dimaksud bahwa lisan (ucapan) yang bisa menjadikan jenazah disiksa adalah orang-orang yang melakukan niyahah (berteriak/meronta-ronta) seakan tidak menerima takdi Allah subhanahu wata’ala, dan si mayyit semasa hidupnya tidak mengajarkan kepada keluarganya bahwa menyesali takdir Allah adalah hal yang tercela, maka Allah tampakkan kehinaan kepadanya dengan tangisan keluarganya atas meninggalnya, maka dalam hal seperti ini jika semakin para keluarga dan kerabatnya menangis maka ia akan semakin terhimpit dan tersiksa, karena ia tidak mengajarkan kepada mereka untuk menerima dan bersabar atas takdir yang diberikan Allah kepada mereka.
Maka dalam hadits tersebut tersimpan satu kata dan menjadi dalil yang jelas bahwa Allah bisa menyayangi jenazah sebab ucapan atau doa seseorang. Sebagian pendapat mengatakan bahwa orang yang telah meninggal maka amalnya terputus dan tidak lagi bisa sampai kepadanya amal apapun, akan tetapi orang yang masih hidup dapat menolong orang yang telah meninggal dengan doanya, hadits tadi merupakan salah satu dalil akan hal ini, dimana seorang jenazah bisa disiksa atau disayangi oleh Allah sebab lisan/ucapan orang yang hidup, jika orang yang masih hidup mendoakannya maka hal itu akan bisa merubah keadaannya di dalam kubur.

Adapun yang dimaksud ucapan orang yang masih hidup akan menjadi musibah bagi jenazah di alam kuburnya adalah niyahah, seperti berkata dengan berteriak sambil menangis : “jika si fulan tidak melakukan hal itu maka ia tidak akan meninggal”, dan lainnya dari ucapan-ucapan yang menunjukkan penyesalan atas kematian seseorang, hal itulah yang menjadikan si mayyit tersiksa di kuburnya. Namun sebagian ulama’ berpendapat bahwa selama si mayyit di masa hidupnya ia mengajarkan kepada keluarganya untuk tabah dan sabar atas takdir Allah subhanahu wata’ala, maka ia tidak akan mendapatkan kesulitan tersebut di kuburnya, namun yang akan mendapatkan kesulitan adalah keluarganya yang masih hidup.





























kata kunci:


Hukum menangisi orang yang telah wafat


Hukum menangisi orang yang telah meninggal


Hukum menangisi orang yang telah tiada


Menangis dikuburan


Menangisi mayit


Menangisi Jenazah

 ~~~ Dari Ceramah Alhabib Munzir bin Fuad Almusawa ~~~
Segala puji milik Allah subhanahu wata’ala Yang telah menerangi kita dengan cahaya, cahaya kehidupan, cahaya kebahagiaan, cahaya keluhuran, cahaya kesucian, cahaya kemuliaan Allah, cahaya keluhuran Allah, hingga mengundang kita untuk sampai ke masjid, ke majelis, hadir di dalam istana keridhaan Allah subhanahu wata’ala sebagai tamu kasih sayang-Nya, Yang telah mengundang kita dengan kehendak-Nya untuk hadir dan memberikan taufiq kepada kita untuk sampai ke tempat mulia tersebut. Allah subhanahu wata’la, Yang telah menyampaikan kepada sang Nabi sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :
مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
“Barangsiapa yang kakinya berdebu di jalan Allah, niscaya Allah akan haramkan baginya api neraka”.
Kaki yang berdebu ketika dilangkahkan dalam perjalanan karena Allah, maka Allah memerintahkan kepada api neraka untuk tidak menyentuhnya. Jikalau hanya karena kaki yang berdebu saja telah Allah haramkan api neraka menyentuh mereka yang melangkah ke jalan Allah, maka terlebih lagi jiwa yang disentuhkan oleh Allah dengan iman, dengan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. 
Hadits yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
 فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قاَلَ لَا إِلهَ إِلَّا الله يَبْتَغِيْ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah, karena mencari ridha Allah dengan (perkataan) nya.”
Semoga Allah subhanahu wata’ala haramkan kita semua dari api neraka, amin. 

 ~~~ Dari Ceramah Alhabib Munzir Almusawa ~~~
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam kitab Adab Al Mufrad, yang menukil hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Rasulullah bersabda bahwa nabi Nuh berwasiat kepada putranya :
يَا إِبْنِيْ أُوْصِيْكَ بِكَلِمَتَيْنِ :”سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا اللهُ
“ Wahai anakku, aku berwasiat kepadamu dengan dua kalimat : “ Subhanallah wabihamdihi, dan Laailaaha illallah”
Karena kalimat “Subhanallah wabihamdihi” adalah shalatnya seluruh makhluk Allah dan Allah memberi rizki kepada semua hamba-Nya dari kalimat “Subhanallah wabihamdih” kalimat itu mensucikan Allah, mengangungkan Allah, meluhurkan Allah, memuliakan Allah, sungguh Allah tidak butuh untuk dimuliakan, tidak butuh untuk disucikan, tidak butuh dipuji namun Allah menjadikan terpuji orang yang memuji Allah, membuat tersucikan orang yang mensucikan Allah, membuat mulia orang yang memuliakan Allah. Oleh sebab itu orang yang banyak mensucikan dan memuji Allah maka Allah akan limpahkan rizki, dan semakin banyak yang berbuat demikian maka akan semakin Allah limpahkan rizki secara hissi dan ma’nawi, zhahir dan bathin di dunia dan akhirah.
Adapun kalimat yang kedua yaitu “Laailaaha illallah”, jika kalimat ini ditimbang dengan seluruh alam yang ada maka kalimat ini akan lebih berat, karena seluruh kalimat tidak ada jika tidak ada Allah subhanahu wata’ala, maka berpadu seluruh kejadian, seluruh sifat dan pemikiran, seluruh ketentuan yang pernah terjadi atau yang akan terjadi kesemuanya tidak akan pernah terlepas dari rantai dan kekuatan kalimat“Laailaaha illallah”, maka inilah kalimat yang terkuat, kalimat yang terdahsyat, kalimat yang terluhur dan kalimat inilah yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang mengucapkan “Laailaaha illallah” dari dasar hatinya atau dari dirinya, maka dialah orang yang paling beruntung yang mendapatkan syafaatku”.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memulikan hari-hari kita dengan keluhuran, dengan cahaya dan kemuliaan Laailaaha illallah, dengan barakah Laailaaha illallah, dengan terbukanya pintu-pintu keluhuran dari kalimat Laailaaha illallah, dan mengalirnya air mata taubah dengan kemuliaan Laailaaha illallah, dan kerinduan kita kepada sang pemilik Laailaaha illallah, Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah membuka seluruh hati kita untuk rindu kepada Allah, rindu kepada Rasulullah, Ya Rahman Ya Rahim, alihkan seluruh sanubari kami untuk mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan hal itu mereka akan sampai kepada mahabbatullah …
~~Dari Ceramah Alhabib Ahmad Novel bin Salim bin Jindan~~

Habib Ali Alhabsy kasih kabar gembira buat kita sekalian, Beliau bilang yang artinya”Ga ada perkumpulan yang dapat mengangkat bala dan kesulitan yang lebih ampuh daripada perkumpulan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. 


Terus Beliau bilang inti dari perayaan maulid yaitu bahwa 
ini (perayaan maulid) adalah waktu taubatmu wahai yang tukang maksiat (kita semua tanpa terkecuali) apabila engkau ingin bertaubat kepada Allah. Ini waktu kembalimu wahai orang yang kabur dari rahmat Allah kalau engkau ingin balik kepada Allah SWT. Perkumpulan maulid tidak diragukan karena dosa-dosa diampuni Allah SWT. Terus Beliau bilang “Wahai hadirin dengarkan ucapanku dan ambil kabar gembira, inshaAllah sejak hari ini dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT, dari hari ini inshaAllah segara kekurangan kita diperbaiki oleh Allah SWT, Setelah hari ini ishaAllah taubat kita diterima Allah SWT, Allah mengampuni dosa dosa kita dan menggantikannya dengan kebaikan.”


Dahulu kake kami Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsy dalam acara maulid selalu berkata “Ketahuilah bahwasanya ditengah tengah kalian adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam” Kita ga melihat tapi mereka para auliya melihat, karena mereka orang orang yang dimuliakan oleh Allah yang memandang dengan Allah, yang mendengar dengan Allah, mereka adalah para kekasih Allah.
~~Dari Ceramah Aa Gym (KH. Abdulah Gymnatsiar)~~

Lidah ini seperti peluru keluar dari laras, kalau sudah keluar tidak bisa ditangkap, seperti panah melesat dari busur, sekali lepas uda ga ketangkep. Makanya yang paling bagus itu berfikir dulu lalu dirasa rasakan oleh hati, baru bicara.

Jangan sembarangan, mulut ini seperti pisau kalau kita tidak menjaganya maka bisa melukai kita. Mulut ini seperti binatang buas, kalau ga pandai mengendalikan kita yang diterkam, makanya jika ga penting penting amat bicara, maka diam. Kalaupun mau bicara mikir dulu, selesai mikir dirasa-rasakan. “ini benar tidak yang saya omongkan”, “perlu tidak saya katakana sekarang?”, “manfaat tidak?” lalu rasa rasakan apa nih niatnya? Nafsu dihati ini? Ingin pamer atau nyakitin? Itu pake rasa. Kalau uda lewat proses yakin manfaat baru bicara.

Bicara ini bisa ada ujub, bisa ada riya. Cape beramal lewat mulut maka hancur pahalanya. Bisa dengki, bisa bohong, bisa fitnah, bisa ghibah, bisa janji palsu. Makanya jika orang ingin selamat, jaga lisan. Caranya jaga lisan yaitu ingat Allah maha mendengar.
~~~Dari Ceramah Alhabib Ahmad bin Novel Salim Jindan~~~

Ada seorang ahli ibadah, hidupnya seorang diri di saung, sampai ada orang hasud, benci sama dia lalu menyewa seorang pelacur untuk masuk ke tempat ibadahnya orang yang ahli ibadah ini serta mengganggunya agar dia yang ahli ibadah ini terjerumus karena tergoda oleh seorang pelacur.

Maka diwaktu yang ditentukan, dikegelapan malam, si pelacur ini masuk ke tempatnya ahli ibadah yang sedang beribadah. Begitu masuk, dengan kecantikan si pelacur ini membuka segalanya. Si ahli ibadah melihat begini apa yang dia lakukan? Dia menyalakan lilin lalu dia bakar jarinya sendiri satu persatu gak kuat kepanasan, kemudian dia ibadah lagi, habis selesai solatnya dia kembali lagi ke lilin lalu membakar jarinya lagi satu persatu lalu kepanasan dan melanjutkan ibadah lagi, begitu terus sampe shubuh gak ditoleh itu perempuan. Sampai ini perempuan cape sendiri lalu keluar.

Ketika ditanya kenapa, engkau bisa saja melakukan kemaksiatan tersebut dikegelapan malam? Lalu ahli ibadah ini menjawab “iya betul, dan memang terlintas dibenakku untuk melakukan, aku manusia. Tapi saat itu aku bentengi diriku dengan itu lilin, aku julurkan jariku, ketika aku merasakan panasnya aku kepanasan, saat aku kepanasan aku katakana kepada diriku, engkau tidak mampu wahai diriku menahan panas api dunia walau sedetik, lalu apakah engkau mampu menahan panasnya api neraka yang lebih panas dari api dunia ribuan tahun? Kalau engkau tidak mampu dengan panasnya api dunia, jangan sekali kali engkau menoleh pada kemaksiatan. Ini yang meredamku, aku balik lagi beribadah, saat aku beribadah syaitan membisikan aku lagi keinginan untuk melakukan, maka aku sodorkan tanganku lagi pada lilin itu. Agar merasakan bahwa panasnya api dunia aku tidak bisa tahan, bagaimana dengan panasnya akherat.”


Sampai akhirnya Allah melindungi dia. Dan intinya bahwa rasa takut kepada murka Allah, kepada api neraka, kepada siksa Allah itu akan mengerem seseorang, meredam seseorang dari kemaksiatan yang akan dia lakukan.



Kata kunci
Kisah Islami
Kisah penuh hikmah
Rasa takut
Panas api neraka
Kisah pelacur
Kisah tukang ibadah
Kisah ahli ibadah
Kisah lilin
~~~Dari Ceramah Alhabib Munzir bin Fuad Almusawa~~~

Segala puji milik Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur yang telah mengangkat jiwa dan sanubari kita menuju kepada puncak-puncak keluhuran, puncak-puncak kebahagiaan, puncak-puncak cahaya-cahaya keindahan Ilahi yang abadi, yang dengan kehadiran kita di tempat ini membuka rahasia cahaya kebahagiaan yang kekal, yang menghapus dan meruntuhkan sedemikian banyak kemurkaan Allah sebab perbuatan-perbuatan kita yang telah lalu, yang membuat Allah subhanahu wata’ala ingin segera melemparkan kita ke dalam api neraka, namun karena kehadiran kita di malam hari ini dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala, Allah mengangkat nama-nama kita menjadi hamba yang dimaafkan, hamba yang diampuni, hamba yang dibimbing pada keluhuran, hamba yang dibukakan baginya segala pintu rahmah, segala pintu cahaya, segala pintu inayah, segala pintu ma’rifah, sehingga setiap nafasnya tertuntun dalam keluhuran, dalam kebahagiaan, dan tidak lepas dari hal-hal yang mulia, dan ketika ia terjebak dalam dosa ia segera ingin kembali kepada pintu terbesar dari seluruh rahmat Allah, yaitu “ Laa ilaaha illallah”, yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika ditanyakan oleh Abu Hurairah Ra : 

“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling beruntung yang mendapatkan syafaatmu di hari kiamat?”, 

maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya”
Maka hujjatul islam wabarakatul anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani berkata di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa karena itulah kalimat ini selalu diajarkan oleh ulama’ untuk diulang-ulang dan terus direnungkan kedalaman maknanya, karena seluruh makna alam semesta berpadu dalam makna kalimat ini, karena seluruh rahasia alam semesta sebelum diciptakan, setelah diciptakan dan setelah sirna kesemuanya berpadu dalam kalimat ini, segala sesuatu dari hal-hal yang terlihat, yang terdengar, semua bentuk dan sifat, serta semua ciptaan Allah yang ada di alam ini tidak terlepas daripada kalimat “Laa ilaaha illallah” .